Jakarta- Semarang, 26 November 2016

Perjalanan di kereta merupakan salah satu kesempatan yang memberikan banyak ruang untuk menulis, banyak waktu untuk merenung, dan banyak waktu untuk berpikir.Maka itu, aku membuat tulisanku ini, dalam perjalanan jakarta semarang di pagi hari yang cukup cerah ini.

Sudah cukup lama sejak terakhir kali aku menulis dengan kerapihan berpikir. Beberapa  waktu terakhir tulisanku lebih dipenuhi oleh ketidakrapihan pikiranku. Seorang blogger yang tulisannya banyak kusukai pernah berkata: terkadang tulisan yang baik justru tercipta oleh ketidakrapihan berpikir yang sedang kita alami. Beberapa kali itu terjadi padaku, tapi lebih banyak tidaknya, tulisanku setidak rapi pikiranku.

Maka melalui tulisanku ini, aku meminta maaf, untuk sebagian orang yang mengikuti dan membaca tulisan-tulisanku itu. Maaf karena kalian ikut serta dalam ketidakrapihan berpikirku itu. Maaf jika itu mengganggu. Aku hanya menulis, karena itu membantuku untuk menjaga akal sehatku di tengah ketidakrapihan itu.

Aku bukan penulis yang mengabdikan diri untuk menulis. Jalanku belum sejelas itu.

Aku hanya penikmat tulisan, entah jika suatu saat nanti tulisanku dapat menjadi tulisan yang dinikmati oleh aku aku yang lain.

Aku menulis, karena aku butuh menulis.

Ketika tidak terlalu banyak orang dan ruang yang mampu menganggap kawan keliaran pikiranku. Ketika aku merasa ada yang salah dengan fenomena di sekitarku. Ketika aku merasa, sesuatu butuh untuk dilakukan untuk perubahan yang lebih baik, dan bisa saja itu berawal dari tulisanku yang masih seringkali berantakan itu. Ketika aku merasa, dunia tidak seluas itu untuk menampung segala macam perbedaan sudut pandang. Ketika aku merasa, hati terlalu letih jika harus terus menanggung semua beban sendirian.

Sesederhana itu.

 

Kisah sebotol lem, dari ruang kesenian.

Sebotol lem,

 
dan lembaran kertas beraneka warna.

 
Tugasnya hanyalah merekatkannya, dan ketika mereka sudah tergabung sebagai suatu karya yang indah, pada akhirnya posisinya akan kembali ke rak kayu tua di ujung sana, mungkin memang itulah posisinya yang sebenarnya. Karna kehadirannya sudah tidak lagi diperlukan. Ada maupun tidak ada dia tidak lagi menjadi masalah karna toh kertas-kertas warna itu sudah menyatu menjadi kesatuan karya yang indah. Ada maupun tidak ada dia, tidak ada lagi yang mempedulikan. Kertas-kertas warna itu tengah menikmati harmoni sebagai suatu karya yang indah.

 
Betapa ia pernah berupaya merekatkan kertas-kertas warna itu dengan penuh kasih, tidak ada yang menyadari, tidak ada yang peduli. Ia adalah sebotol lem, bukan kertas warna. Hingga sulit keberadaannya dipahami oleh masing-masing karya yang telah ada. Karya-karya itu perlu eksistensinya yang nyata sebagai suatu harmoni. Sedangkan ia, sebagai sebotol lem, tidak bisa selalu ada menemani satu karya saja, ia perlu melanjutkan tugasnya merekatkan kertas-kertas warna lainnya. Dan impian terbesarnya sebagai sebotol lem, jika mungkin, adalah menyatukan karya-karya itu. Dan mungkin apa yang dilakukannya itu dianggap sebagai sebuah pengkhianatan, penegasan bahwa ia bukanlah bagian dari satu kesatuan karya manapun. Mungkin ia dianggap meninggalkan, padahal kasihnya sedemikian besarnya, tidakkah kertas-kertas warna itu merasakannya? Ah, mungkin bisa saja kasihnya juga dipertanyakan.

 
Mungkin ia terlalu tidak nyata, hingga keberadaannya bukanlah dianggap sebagai suatu kesatuan. Betapa ia pernah berupaya merekatkan kertas-kertas warna itu dengan penuh kasih, mungkin itu hanya dianggap bagian dari sejarah. Sejarah, ya seperti namanya, hanyalah sejarah, diingat hanya jika terpaksa, diingat hanya jika ingat, sisanya, cukup ada di dalam sana di sana, pada tumpukan buku tua di sudut perpustakaan yang temaram. Tak terjamah.

 
Ah. Terlalu banyak mungkin. Ia lalu menghentikan mungkin-mungkin itu. Tidak bijak rasanya memungkin-mungkinkan.

 

 

Ia bertanya pada karya karya itu,

 

Karya karya itu hanya memandang ganjil disertai aura yang ganjil, yang menegaskan perkataan:

 

“ Siapa kamu?”

 

 

Pada karya –karya itu ia berkata: “aku rindu”.

 

 

Sunyi.

 

 

Ah, ruang kesenian itu bisa begitu sunyi rupanya.

 

 

Ah mungkin hanya melankolisme sebotol lem.
Bukankah ia sudah terbiasa. Karna memang mungkin itulah tugasnya ada dan diciptakan di dunia. Ya, itulah fungsinya. Merekatkan, dan memandangi indahnya hasil rekatan itu dari kejauhan, dari tempat duduknya pada rak kayu tua di sudut ruangan.

 

Tidak perlu lagi sebotol lem. Warna-warna itu sudah begitu indah menyatu dalam karya-karya itu. Ia akan memandanginya dari kejauhan. Penuh kasih. Tanpa gugat.

 

Mungkin nanti, jika ia telah habis, dan yang tertinggal darinya hanyalah botol kosong tempat ia pernah tersimpan, kertas-kertas warna itu akan menyadari, bahwa ia pernah ada dan juga merupakan bagian dari harmoni ruang kesenian itu.

 

Kepada karya-karya itu, dan kertas –kertas warna yang menyusunnya, salam sayang.

Kita pernah tinggal di satu tempat yang sama, bernama ruang kesenian.

– sebotol lem, dari sudut ruang kesenian-

 

 

– Yogyakarta, 12 April 2014 –

Tentang sebotol lem

By: Yara

 

 

 

 

Dear Rain

Jika kenangan buruk lah yang lebih selalu diingat ketika hujan turun, ketika malam sepi, ketika musik mengalun, ketika sendiri…

maka tidakkah lebih baik aku menjadi kenangan buruk itu…?

untuk lebih diingat,

ketika hujan turun

ketika malam sepi

ketika musik mengalun

ketika sendiri….

 

Jika kenangan buruk lah yang selalu ada dalam benak,

maka tidakkah lebih baik aku menjadi kenangan buruk itu ?

 

Jika kenangan buruk lah yang selalu mampu membuat  hati sesak,

maka tidakkah lebih baik aku menjadi kenangan buruk itu ?

 

karna mungkin hanya dengan menjadi kenangan buruk itu,

kamu baru akan mengingatku, selalu….

 

karna mungkin hanya dengan menjadi kenangan buruk itu,

kamu baru akan menghargai kehadiranku, selalu…

 

karna mungkin hanya dengan menjadi kenangan buruk itu,

kamu baru akan merasakan perasaanmu padaku, selalu…

 

maka tidakkah lebih baik aku menjadi kenangan buruk itu ?

untuk sepenuhnya memiliki hati dan pikiranmu, kapanpun, dimanapun, tanpa celah sedikitpun untuk siapapun…

 

maka tidakkah lebih baik aku menjadi kenangan buruk itu ?

untuk sepenuhnya memiliki kamu…

 

 

– Yogyakarta, 16 November’ 14-

mungkin lebih baik begitu

by: Yara

Unfinished… (Part 2)

15 Desember 2013

Ah,

Andai kamu tahu, Mas Bayu.

sayangnya kamu tidak tahu,

dan sayangnya, aku tidak ingin memberi tahu.

 

Duduk di sampingmu seperti ini adalah salah satu hal yang selalu aku rindukan. Meskipun, aku tidak tahu pasti apa yang membuatku selalu merindukan kebersamaan ini. Dengan kamu, bagian yang hilang itu seperti kutemukan.

Sesederhana rasa sedih yang tiba-tiba mereda dengan sejuknya hembusan angin. Sesederhana penat yang tiba-tiba hilang dengan bersantai di tepi pantai. Sesederhana tangis yang tiba-tiba mampu terburai setelah sangat lama terpendam. Sesederhana merasakan hangatnya sinar mentari pagi yang mencerahkan. Sesederhana damainya memandangi arakan awan putih pada birunya langit. Sesederhana bulir hujan yang membasahi dan mengobati lelah. Sesederhana itu. Berada di sampingmu.

Iya mas Bayu, sesederhana itu aku merasakan bahagia ketika duduk bersamamu, seperti saat ini. Menuliskan tentangmu, dengan  kamu yang berada di sebelahku, dan kamu yang tidak tahu bahwa yang sedang aku tuliskan adalah tentangmu.

Tapi aku tahu, ini semua tidak sesederhana itu. Rasa ini sungguh tidak sederhana. Aku tidak memahaminya. Dan memandangimu, yang kulakukan untuk mencoba menemukan pemahaman, justru semakin membuatku tidak memahaminya.

Terlebih, aku juga tidak tahu, Mas. Bagaimana aku harus memposisikan diri terhadapmu? Mau aku apakan dan kemanakan perasaan yang membingungkan ini ?

Aku tidak berhak. Tempat itu adalah milik Mbak Risna, dia yang selalu menceritakan tentangmu, tentangmu, dan tentangmu. Dia yang paling bersedih ketika kamu bersedih. Dia yang paling bahagia ketika kamu bahagia. Dia yang pada akhirnya menjauh dan terluka karena kamu tidak menyadarinya (atau menyadarinya tetapi tidak mau menggubrisnya). Dia, yang tidak lain adalah kakakku, yang sangat aku sayangi.

Baiklah, sekarang kita asumsikan aku punya hak.

Aku dan kamu berbeda keyakinan, Mas. Aku tahu, kamu sangat kuat memegang keyakinanmu. Dan aku tahu, kamu sulit untuk mengubah keyakinanmu. Aku pun tidak mau memaksa kamu untuk berpindah keyakinan hanya karena aku, aku ingin jika kamu mengubah keyakinanmu itu adalah karena dirimu sendiri, untuk dirimu sendiri. Dan aku tahu itu tidak mudah, Mas. Butuh waktu. Entah sampai kapan.

Lalu mau aku kemanakan perasaan yang membingungkan ini?

Berulang aku berusaha menghilangkannya, menghentikannya, sebelum semakin membuatku jatuh ke dalamnya. Berulang pula ia kembali, dan berkembang. Padahal kamu mungkin saja tidak merasakan yang sama kan, Mas? Hanya aku, yang terjatuh. Dan mungkin nanti kamu justru pergi.

Maka “tidak berharap” adalah hal yang ada di prioritas utamaku saat ini.

 

Andai kamu tahu, Mas, ini semua tentang kamu.

 

 

 

 To be continued…

 

– written @ March, 20th, Jogjakarta; late post-