Note.

Kopas dari tulisan orang di salah satu alamat web.. :

 

 

Disaat kamu ingin melepaskan seseorang.. , ingatlah pada saat kamu ingin mendapatkannya…

Disaat kamu mulai tidak mencintainya… , ingatlah saat pertama kamu jatuh cinta padanya…

Disaat kamu mulai bosan, ingatlah selalu saat terindah bersamanya…

Disaat kamu ingin menduakan, bayangkan jika dia selalu setia…

Disaat kamu ingin berbohong, ingatlah saat dia jujur padamu…

Maka kamu akan merasakan arti dia untukmu..

Jangan sampai disaat dia sudah tidak disisimu, baru kamu sadari:

Yang indah hanya sementara,
Yang abadi adalah kenangan,
Yang ikhlas hanya dari hati,
Yang tulus hanya dari sanubari,
Tidak mudah mencari yang hilang, tidak mudah mengejar impian,

Namun, yang lebih susah adalah:

 

“mempertahankan yang ada”

meski sudah tergenggam, bisa lepas juga..

Ramadhan Tahun Ini… #Day 12

Aku tertarik dengan kisah ini, kisah ulat dan nabi Sulaiman a.s. , yang diceritakan oleh khatib saat khotbah menjelang tarawih di masjid dekat rumahku malam ini:

 

Alkisah, ulat dianggap binatang yang sangat hina dan menjijikkan, kehadirannya tidak diterima dimanapun, bahkan banyak yang ingin membunuhnya. Ulat ,yang kemudian tidak sanggup lagi menghadapi tekanan tersebut, akhirnya menghadap kepada nabi Sulaiman. Ia memohon dan bertanya bagaimana  caranya agar ia dapat menjadi binatang yang lebih baik lagi dan agar ia dapat diterima dan disayangi oleh sekitarnya.

Nabi Sulaiman pun bertanya kepada ulat, apakah ulat benar-benar berniat menjadi lebih baik lagi dari dirinya yang sebelumnya. Ulat kemudian mengutarakan kesungguhan niatnya, bahwa ia bersedia melakukan apapun untuk dapat menjadi binatang yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Nabi Sulaiman lalu mengatakan kepada ulat:

” Jika engkau benar-benar berniat untuk menjadi lebih baik lagi maka berpuasalah, dan berdzikirlah:

“Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar”

Ulat, yang sudah benar-benar berniat untuk berubah menjadi lebih baik lagi, akhirnya melakukan apa yang dikatakan nabi Sulaiman . Ia berpuasa selama berhari-hari sembari banyak melafalkan dzikir. Selama berpuasa, ia menghadapi banyak ujian, tapi karena ia sudah benar-benar berniat untuk menjadi lebih baik lagi, ia tetap teguh berpuasa. Akhirnya, setelah berhari-hari berpuasa, ia berubah menjadi kepompong. Ulat, yang kini sudah menjadi kepompong, masih ingin menjadi lebih baik lagi. Akhirnya ia melanjutkan berpuasa. Setelah berhari-hari berpuasa sembari memperbanyak dzikirnya, ia pun berubah menjadi kupu-kupu yang cantik. Kehadirannya pun menjadi begitu disukai oleh sekitarnya. Ulat tersebut berhasil menjadi dirinya yang lebih baik lagi dari dirinya yang sebelumnya.

Khatib tersebut lalu menambahkan hikmah di balik cerita tersebut. Bahwa untuk menjadi lebih baik lagi, seseorang dapat melakukannya dengan berpuasa dan memperbanyak dzikir. Berpuasa yang dimaksud di sini bukan hanya sekedar berpuasa ramadhan, melainkan berpuasa dalam arti yang lebih luas, yaitu: menahan diri dari semua bentuk hawa nafsu (termasuk menjaga emosi, dll) . Khatib tersebut juga menyatakan bahwa untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi, seseorang tersebut harus benar-benar berniat dan berupaya keras, seperti si ulat tadi. Khatib tersebut juga mengingatkan bahwa hanya seseorang tersebut lah yang dapat mengubah dirinya sendiri menjadi lebih baik lagi, bukan orang lain, seperti yang dinyatakan dalam ayat Allah QS. Ar- Ra’d (11) :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”

Oleh karena itu, Khatib tersebut melanjutkan dan mengajak, untuk senantiasa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dengan sungguh-sungguh berniat dan berupaya keras, karena hanya diri sendirilah yang mampu mengubah diri menjadi lebih baik lagi, bisa dimulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu namun konsisten ataupun jugalebih baik lagi jika mampu langsung bertransformasi. Caranya? berpuasa dan memperbanyak dzikir.

 

 

Jrengg jreeenggg….

 

gw kalah sama si ulet tadi.

 

*background effect: daun ketiup angin malem*

 

wuzzzzzz ~

 

*mlipir ke pojokan*

 

– Ungaran, 10 juli 2014-

Day 12

By: Yara

di balik seorang pria, di Jogjakarta…

Hai, taman di depan kost, sudah beberapa bulan semenjak terakhir kali aku menulis di sini.

 

Dimengerti ketika kamu sedang berada dalam kondisi tersedihmu itu entah mengapa sangat mengharukan, bahkan oleh orang asing yang tidak pernah kamu kenal sama sekali. Tuhan malam ini menunjukkan satu skenarionya yang indah lagi. Skenario tidak terduga yang entah bagaimana mampu membuatku tersadar, Tuhan (selalu) peduli kepada setiap hambaNya.

 

Malam ini, duduk di bangku taman ini, diiringi angin dan hujan, aku lemah.

 

Menunduk di meja taman, tersedu, sesenggukan.

 

Aku tidak sadar, ada pria itu, dengan sepeda tuanya, mengais sampah tepat di luar pagar kostku, di seberang meja tempatku tertunduk.

 

Hingga akhirnya aku mendengar suara:

 

” Jangan sedih mbak….. ada saya…”

 

suara penuh perhatian tulus yang membuatku mengangkat kepalaku dan mencari asal suara itu.

 

Aku melihat sosok itu.

 

Aku mencelos.

 

Pria itu tersenyum sangat tulus, memandang dengan tatapan menenangkan dan  penuh perhatian.

 

Padahal ia hanyalah seorang asing, yang mungkin bisa saja lebih memilih untuk melanjutkan pekerjaannya, yang bisa saja memutuskan untuk tidak mempedulikan perempuan asing yang tidak ia kenal, yang sesenggukan seperti bocah di malam yang begitu dingin ini,

Tapi ia memutuskan untuk peduli…

 

Tangisku makin pecah, bercampur tawa haru…Tuhan begitu sederhana dan penuh kasih. Ia mempedulikanku dengan caraNya yang begitu manis. Menenangkanku. Menghiburku.

 

Aku tertawa kepada pria itu, aku tidak tahu bagaimana caranya berterimakasih padanya, semoga tawa bercampur tangis dan senyumku itu cukup mampu menunjukkan rasa terimakasihku padanya. Satu kalimat tulus itu entah kenapa mampu membuatku semakin melepaskan perasaan-perasaan sesak yang aku tahan dengan sesenggukan. Aku tertawa, bercampur airmata yang tidak bisa aku bendung. Senyum pria itu seperti menunjukkan “rumah”, penenangan, kepedulian. Perasaanku begitu campur aduk…ada perasaan ingin menghambur, mengadu kepadanya….

 

Aku pun tertawa, dan makin menangis…. hujan makin mencampurbaurkan perasaanku yang bercampur aduk dengan “kepedulian” Tuhan lewat caraNya yang tidak terduga itu…

 

padahal pria itu kehidupannya begitu keras… yang justru menurutku semestinya mampu membuatnya lebih sesenggukan hebat bila dibandingkan denganku. Tapi ia justru menenangkan orang lain, yang bahkan tidak ia kenal sama sekali, yang bahkan mungkin memiliki kehidupan yang lebih ringan bila dibandingkan dengan kerasnya kehidupan yang ia jalani untuk bertahan hidup… Betapa indah hati pria itu, Tuhan. Engkau sempurna.  Menghadirkannya di waktu aku sangat memerlukan kehadiran seseorang, untuk membangkitkanku. Kasih sayangMu, Tuhan. Aku malu padaMu…

 

Tuhan…..

Kemarin kau kirimkan penenangan melalui anak-anak di panti asuhan itu.

Kemarinnya lagi kau kirimkan bantuan untuk mencari tempat yang menenangkan aku…

Hari ini kau beri rizki dimana kerja kerasku dihargai oleh sekitarku..

lalu kau kirimkan pria asing itu untuk menenangkan dan menghiburku…

 

 

Betapa caraMu menunjukkan bahwa masih ada yang menghargai, membutuhkan, dan peduli padaku itu begitu mengharukan. Iya, Engkau (masih) (selalu) peduli padaku…

 

Terimakasih Tuhan….

 

Aku tidak tahu lagi bagaimana menggambarkan perasaanku…

 

dan tangisku pun makin membuncah..

 

aku belum bisa membalas kasih sayangMu yang begitu berlimpah ini…

 

 

Ah, taman ini…

 

hujan….

 

aku teringat memori itu, ketika hujan dan duduk di taman ini, dengannya. berbicara begitu banyak hal.

 

aah, waktu-waktu membahagiakan itu. yang semoga, masih akan ada lagi di depan sana.

 

 

Tuhan……..,

mohon peluk aku.,…. sekarang.

 

 

tolong, Tuhan………

tolong………

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari seorang teman…

Ilmu menjaga pandangan, tangan, dan hati

“Sahabat muslim jagalah pandangan dan tanganmu, sahabat muslimah jagalah akhlak dan pakaianmu”

Pendahuluan

Pada zaman sekarang ini duni penuh dengan kalimat yang bernama “FITNAH”. Oleh karena itu, kita harus lebih waspada dalam hal menjaga tutur kata, sikap, dan hati agar tidak terjerumus ke dalam jurang fitnah dajjal maupun manusia.

Suatu hari saya pernah membaca artikel tentang menjaga hati, tangan, dan mata kita agar selalu dalam lindungan Allah SWT. Artikel ini bermaksud untuk memberitahukan kepada seluruh kerabat muslim dan muslimah agar tahu betapa pentingnya menjaga haati dan pikiran.

Continue reading