Kenapa harus dia sih ?

semua bisa bilang sayang, semua bisa bilang………..~~~~

 

Beberapa hari yang lalu aku memperoleh sebuah kabar yang mengagetkan. Seseorang yang pernah (cukup sangat lama) berada di kehidupanku ternyata sudah menempuh hidup barunya, secara sah di hadapan negara dan Tuhan.

Respon pertamaku, jujur: speechless.

Why?

karena aku tidak memperoleh kabar itu langsung dari nya melainkan dari foto profil akun media sosial perempuan barunya yang me-like foto2 terbaruku secara sengaja. Well, mungkin memang perempuan itu sengaja melakukannya agar aku melihat foto profilnya.

Aku kesal, dengan kelakuan bocah dari si perempuan barunya itu. Well hellowww, aku ga bakal juga ngerebut (used to be) pacar orang kali (apalagi suami orang). Itu prinsipku sedari dulu, walaupun orang itu adalah orang yang mengganggu kehidupanku.

Honestly, sejak aku putus dari x, aku sudah menjaga jarak dengannya, aku tidak mau kami berada di hubungan yang tidak jelas pasca keputusan yang kami buat saat itu karena jujur kondisi saat itu begitu membuatku terpukul. Aku tidak pernah menghubunginya, tidak pernah menggubrisnya, walaupun dia yang terus menghubungiku padahal dia yang memutuskan aku, walaupun dia yang berjanji 5 tahun dari kami putus dia akan melamarku, walaupun aku saat itu begitu speechless dan hampa sejak keputusannya mengakhiri semua perjuangan kami selama hampir 8 tahun. Aku menjaga jarak darinya, karena aku ingin kembali pada Tuhanku, setelah sekian lama jauh dariNya ternyata apa yang membuatku jauh dariNya justru bersikap sedemikian menyakitkan hatiku. Aku ingin memulai cinta yang benar, di jalan yang benar, aku ingin berhenti pacaran, pacaran terlalu lama dan berakhir membuatku tersadar bahwa ada yang salah dengan caraku memulai cinta.

Aku juga semakin menjaga jarak dari x sejak aku tahu dia jadian dengan perempuan itu pasca kami belum ada satu bulan putus, yang membuatku tersadar dan tertampar, bahwa aku selama itu salah percaya pada orang yang salah. Hal itu juga membuatku mencelos bahwa orang yang paling aku anggap baik dan bisa dipercaya pun ternyata pada akhirnya juga mengkhianati apa yang aku percaya. Jujur sejak saat itu, aku semakin berusaha mengikhlaskannya, karena aku kecewa padanya, karena aku kecewa dia sedemikian mengecewakannya. And i did it. Aku tidak membencinya, aku hanya tertawa mencelos setiap mengingat dia, dia yang membuatku merasa sedemikiannya tidak berarti, dihargai, dan diperjuangkan. Aku , merelakannya.

Kemudian aku pun memutuskan melanjutkan hidupku dengan menganggap dia tidak pernah berjanji apa apa padaku. dan di tengah hampaku dan ketidak percayaanku pada pria saat itu, aku menemukan seseorang yang sampai saat ini masih ada di sampingku, dia yang aku ingin untuk coba kupercaya, lagi.

Aku saat itu hanya pernah menghubungi x untuk mengambil barang2ku, setelah akhirnya dia memutuskan mengingkari janjinya sendiri, aku ingin benar2 tidak ada urusan yang tersisa lagi antara aku dan dia. Itu pun aku berubah pikiran, aku tidak jadi menemuinya, karena aku tidak mau mengganggu hubungannya yang baru, aku tidak ingin mengganggu perasaan perempuannya, yang sebenarnya adalah orang yang mengganggu dia di tengah janjinya padaku, dan bahkan sebelum kami resmi berpisah.

aku masih mencoba menghargai perempuan yang tidak menghargai aku, karena aku perempuan dan aku tau bagaimana rasanya tidak dihargai oleh perempuan lain.

Namun kemudian aku semakin kesal, setelah sebelumnya akun media sosial x diganti semua passnya oleh perempuan itu, dan perempuan itu memasang foto besar besaran di media sosial x (yang membuat aku mendapat begitu banyak pertanyaan dari teman-temanku di tengah kondisiku yang waktu itu masih belum pulih pasca putus) , perempuan itu seperti semakin benar-benar mengawasiku, akun media sosialku diikuti oleh ketiga akunnya. GILA. Aku bahkan tidak ada niatan jahat padanya, tapi dia sedemikiannya curiga padaku. Aku kesal, padahal antara aku dan x tidak ada masalah apa apa ketika kami memutuskan berpisah, hubungan kami cukup baik dan tidak bermusuhan, tapi karena perempuan satu itu tali silaturahmi pun bahkan tidak bisa dijaga, bahkan undangan pernikahan pun tidak diberikan padaku.

Well hei, honestly, tulus dari dasar hatiku, i want to say have a happy marriage, both of you.

Tapi satu yang kalau bisa aku pengen bilang, kenapa harus perempuan itu sih? nggak ada yang lebih baik apa ya buat ganti aku? nyeseg lho, orang yang bikin kamu ga nepati janjimu ke aku ternyata sikapnya seburuk itu. Kan waktu itu aku bilang, aku ikhlas kalau kamu bertemu yang lebih baik dari aku, nah makanya, kenapa harus dia sih? Ga ada yang lain apa? Ckck.

Tapi ya sudah, itu pilihanmu. Bahagialah. dan tolong bimbing istrimu, untuk tidak bersikap seburuk itu pada orang yang menghargai kalian dan mencoba menjaga silaturahmi yang baik dengan kalian, meskipun kalian memulai semuanya dengan cara yang menyakiti dan mendzalimi hati seseorang itu.

 

KENAPA SIH GA NGABARIN LANGSUNG AJA, KENAPA NGABARINNYA HARUS PAKE CARA YANG BIKIN KESEL ??

Astagfirullah…

 

well.

Semoga samawa, past.

Semoga bisa menjadi kepala keluarga yang bisa dipegang omongannya, jangan bohongin dan kecewain anak orang lagi. OKEY ? :))

 

 

 

Advertisements