Hidayah (Part 1)

“Hidayah itu dijemput, bukan ditunggu. Hati kita sebenarnya sudah tahu mana yang baik dan tidak baik, kita yang tidak mendengarkannya dengan baik. Semakin kita mendekat, Allah juga akan semakin mendekati kita. ”

Jleb.

Gw lupa kapan tepatnya pertama kali gw denger kalimat itu dan darimana. Satu hal yang pasti, saat itu gw tertohok.

Seinget gw, saat itu kurang lebih tahun 2011.

Gw sebenernya sudah cukup lama ‘terpanggil’ untuk berhijab. Hal pertama yang ‘memanggil’ gw adalah rasa ketidaknyamanan gw yang pada awal SMA semakin menjadi karena semakin sering disiulin, digodain, maupun diajak berkenalan oleh sembarang laki-laki ketika jalan, baik sendiri ataupun bersama dengan teman- teman gw. Mungkin untuk beberapa wanita itu adalah hal yang menyenangkan. Tapi entah kenapa tidak buat gw.

Perasaan tidak nyaman itu semakin menjadi ketika gw merasa tidak nyaman ketika berpergian tetapi tidak memakai jaket. Gw semakin merasa risih karena setiapkali gw jalan seringkali gw menemukan banyak ‘pandangan’ mesum dari laki-laki yang gw temui ke arah (maaf) dada gw. Alhasil gw sering merasa tidak ‘aman’ jika harus bepergian tanpa menggunakan jaket.

Hal itu terus berlanjut sampai gw kelas 3 SMA.

Seperti kebanyakan permasalahan yang ditemui seseorang dalam proses ‘menjemput hidayah’, gw terjebak dalam penundaan dan pengabaian. Gw mengabaikan ‘kegelisahan’ yang gw rasakan ketika gw tidak berjilbab. Pengabaian itu awalnya terasa salah. Namun hati semakin lama semakin terbiasa mengabaikan. Hidayah yang gw rasakan itu tergerus oleh pengabaian gw sendiri. Gw menunda dan menunda dorongan yg gw rasakan untuk segera berjilbab.

Beberapa hal yang menjadi alasan penundaan gw saat itu adalah: (1) gw masih muda, masih pengen ngerasain masa sma jadi cewek cantik yang modis. Nanti aja deh habis lulus kuliah; (2) males ribet kepanasan pake baju panjang dan rok span; (3) gw merasa gw belum cukup baik untuk memakai jilbab.

Seiring proses penundaan penundaan gw di masa SMA, entah kenapa hidup gw saat itu semakin banyak menemui halangan. Halangan itu mulai dari masalah teman, percintaan, dan bahkan pendidikan. Gw mengalami masa degradasi terparah dalam hidup gw saat itu dibandingkan dengan fase kehidupan gw sebelumnya, termasuk dalam hal agama. Gw syok, depresi, tertekan, down, tidak percaya diri, minder, tidak menghargai diri gw sendiri di masa itu. Gw salah memilih jalan hidup dan pergaulan. Bisa dibilang, hidup gw berantakan. Gw kehilangan kepercayaan dan penghargaan dari sahabat, teman, orangtua, guru, bahkan kenalan gw. Gw terperosok. Dan gw sangat kesulitan untuk bangkit lagi. Terlebih, gw tidak percaya untuk berbagi pada siapapun mengenai semua yang gw hadapi dan pendam sendirian itu.

Sampai kemudian, Allah membukakan jalan buat gw untuk dapat kembali menghargai diri gw dan bangkit. Gw diberi jalan untuk mencapai prestasi yang mencengangkan bagi SMA gw, shortcourse ke Australia. Gw terharu, gw semakin jauh tetapi Allah masih dengan baiknya nggak ngebiarin gw semakin terpuruk dengan kondisi gw. Gw dibantu, untuk bangkit.

Meskipun demikian, gw masih belum bisa sepenuhnya bangkit. Rumor dan semua pembicaraan buruk masih saja terus bergulir.

Ya, dan gw masih belum memutuskan untuk berhijab. Shame on me when i think about it now. Karena mungkin jika saat itu gw mengikuti hidayah yang gw rasakan gw akan terhindar dari semua hal yang membuat gw depresi di waktu itu. Pandangan dan pembicaraan orang yang buruk, pergaulan yang salah.

Gw akhirnya memilih untuk melanjutkan studi jauh dari rumah. Jauh dari semua hal yang membuat gw depresi dan semakin terperosok ke dalam kehidupan yang berantakan.  Gw ingin memulai lembar baru. Gw ingin kembali menjadi baik.

Di kota baru itu, Bogor.

Jauh dari semua hal itu ternyata mampu membuatku menemukan banyak pengalaman dan tantangan baru. Yang saat ini aku syukuri dapat membentuk diriku yang baru. Memberikan kesempatan padaku untuk memperbaiki pilihan pilihanku yang sempat salah sebelumnya.

Meski sebelumnya sempat ingin menunda menggunakan hijab hingga lulus kuliah dan menikah yang kemudian gw ajukan lagi menjadi setelah usia 20 tahun, di tahun 2011, gw mulai memulai langkah gw menjemput hidayah gw. Gw perlahan mencicil membeli baju untuk berhijab. Bismillah. Saat itu langkah gw masih sebatas itu. Gw masih belum memutuskan untuk berhijab.

Sampai kemudian, gw menghadapi permasalahan yang membuat kembali gw hancur. Gw dikecewakan oleh perlakuan orang yang gw sayang, dan sahabat gw, habis-habisan.

Hati gw kosong waktu itu. Sakit banget banget sampai gw hanya bisa selama seminggu numpang di kosan sohib gw nangis-nangis nggak jelas. Bolos kelas praktikum. Bolos kuliah. Olahraga berlebihan. Diet keras menggunakan berbagai obat-obatan.

Dan entah kenapa sore itu, tanggal 19 september 2011, gw membuka lemari gw dan mengambil baju panjang dan jilbab gw. Gw pakai. Dan gw keluar kos. Gw berjalan tanpa arah. Selama perjalanan, entah bagaimana, gw merasakan kesejukan yang mendamaikan perasaan sakit gw. Udara dan suasana di sore itu serta hembusan angin di sore itu seolah olah mendekapku dan memelukku. Aku pun menangis sembari berjalan.

Saat itu kemudian aku memutuskan untuk mulai mencoba memakai hijab. Keesokan harinya di acara kampus, gw memakai jilbab, yang awalnya niatnya hanya untuk coba-coba. Tapi entah kenapa emosi gw terasa lebih terjaga ketika menggunakan hijab saat itu, gw merasa lebih ‘kuat’, bahkan ketika gw berpapasan dengan orang yang saat itu menyakiti gw. Gw bisa tersenyum.

Saat perjalanan pulang ke kosan, gw membatin bahwa sangat tidak layak menggunakan ‘hijab’ hanya untuk coba-coba. Bagaimana pandangan orang mengenai agama gw nanti jika gw buka tutup jilbab. Gw juga merasa tidak tenang untuk melepas jilbab lagi. Akhirnya saat itu gw memantapkan niat dengan mengucap bismillah, gw mau menjemput hidayah gw. Gw ngga mau harus sampai ‘ditampar’ lagi sama Tuhan dengan sangat keras untuk menyadarkan gw untuk kembali ke Dia.

Dan gw pun mulai berhijab.

Gw merasakan ketenangan batin yang luar biasa. Dan herannya, gw juga nggak merasa gerah seperti yang gw takutkan dulu. Gw juga tetap bisa tampil cantik, justru sangat rapi dan bisa padu padan warna cantik, dan bahkan dikatakan oleh teman-teman gw bahwa gw lebih cantik dengan hijab. Gw juga tidak lagi merasa risih karena semakin jarang dilihat dan digoda dengan pandangan maupun perkataan dan sikap mesum ataupun melecehkan. Paling banter paling cuma disapa: assalamualaikum.

Gw bersyukur. Gw perlahan diberikan banyak kemudahan dan kedamaian. Serta kebahagiaan.

Kenapa gw ngga dari dulu ya pake jilbab. Itu yang gw sesalkan saat itu. Karena ternyata banyak berkah dan kedamaian hidup yang gw rasakan ketika gw mendekat. :’)

Gw bersyukur, kesulitan hidup yang gw rasakan saat itu ternyata adalah jalan untuk membentuk gw menjadi diri gw yang semakin baik, semakin mendekat ke Allah SWT.

Dan gw pun memutuskan untuk semakin mendekat.

Advertisements

Kutukan.

Ada banyak hal yang ingin aku tuliskan. Sebanyak hal-hal yang mengganggu pikiran, sebanyak hal-hal yang tersimpan rapat dalam diam.
Sudah sangat lama aku tidak bisa berujar sangat jujur, bahkan pada diriku sendiri. Perempuan, pasti paham maksudku.

Kami makhluk yang dikutuk untuk diam. Karena kami tahu, ketika kami bicara belum tentu kami didengar. Karena ada hal-hal lain yang kami dahulukan, harmonisme.

Kami tidak bisa bebas bicara, karena lelaki, punya egonya, yang seringkali, begitu tinggi. Kami tidak bisa bebas bicara, bahkan ketika kami begitu sedih dan begitu kecewa, bahkan ketika kami begitu terpuruk dan begitu lelah, bahkan ketika kami begitu marah. Karena seringkali, ucapan kami di saat-saat itu, kerapkali dianggap sebagai bentuk menyalahkan, tuntutan, omelan, tidak menghargai upaya mereka, dan tak jarang justru memicu pertengkaran dan amarah pada kami. Karena itu kami diam. Bahkan pada titik tertentu kami merasa tidak perlu bicara, dan berharap semoga suatu saat lelaki akan mengerti tanpa perlu kami bicara. Karena jujur kami juga lelah selalu harus bicara terlebih dahulu untuk dapat dimengerti. Kami ingin dimengerti, tanpa perlu merasa kami banyak menuntut, tanpa perlu dianggap ngomel melulu. Kami ingin dicintai, tanpa meminta. Kami ingin dicintai setulus itu.

Tapi pada titik tertentu, kami merasa, diam juga adalah hal yang tidak benar. Hubungan bukanlah suatu hubungan yang baik tanpa adanya komunikasi yang saling mendengarkan, dan kenyamanan untuk berbicara. Hati kami yang menyatakan bahwa hal itu tidak benar, hati kami terasa begitu berat, dan pedih. Hati kami, pada titik tertentu, bahkan akan semakin sensitif bila dipicu oleh gesekan pembicaraan ataupun pemicu lain yang terkait dengan hal-hal yang kami simpan sendiri itu. Seringkali kami menangis begitu derasnya saat kami sendiri. Tidak jarang, hati terasa begitu pedih dan kesepian. Kami butuh dimengerti, menumpahkan kelelahan kami tanpa dimarahi. Kami ingin dipahami sudut pandangnya, perasaannya, dan didahulukan daripada ego mereka. Kami sedih, sangat sedih.

Orang bilang,
Ia yang cintanya lebih besar adalah orang yang akan menderita.
Mungkin seperti itulah kutukan bagi kami, perempuan.
Mencintai.

Karna itu, kami para perempuan berharap bahwa kami menemukan lelaki yang mencintai kami lebih dari kami mencintai mereka.
Untuk membebaskan kami dari kutukan itu.

Kenyamanan berbicara.

– Jogjakarta, 10 Juni 2016 –
By: yara

Random thoughts

Hati punya batasannya sendiri untuk menerima perlakuan dan perkataan yang menyakiti, menerima pengabaian dan caci maki. Mulut bisa saja diam. Tapi hati, semakin lama, akan semakin jujur, bahwa kamu tidak kuat lagi.