Sekedar cakap dengan Tuhan.

Harapanku, dia, jodohku,
adalah dia yang bisa menerima aku yang mencintainya dengan sepenuhnya.

Tanpa aku perlu khawatir dia akan menghilang atau menjauh,  jikalau aku demikian; tidak membatasi cintaku dan pengungkapanku.

Ia tidak terbebani dengan cintaku yang sebenar-benarnya…
Dan justru, mensyukurinya dan bahagia karena nya.
Bahkan, membanggakannya.

Ia selalu bisa melihat maksud baik dan hal positif dari setiap tingkah dan pengungkapanku yang (mungkin) menurut lelaki lain (atau orang lain) begitu menjengkelkan. Dan justru, bahagia karena nya. Bahkan, membelaku di depan pandangan lelaki lain (ataupun, seluruh orang lain di luar kami) itu. Sehingga mereka justru menjadi begitu iri bahwa ia memilikiku, dan aku memilikinya.

Merayakan cinta.

Aku, orang yang seperti itu.

Karena bahagiaku, bisa mencinta dan dicinta… sebenar-benarnya.

Dan kuharap, itu dengannya.
Jodohku.

Advertisements

Woman, 23 years old +

Wajar nggak sih, muncul keinginan untuk menikah di umur-umur ini?

Aku pikir wajar sebab teman sebaya pun sudah banyak yang berkeluarga di umur ini.Terlebih, jika perasaan itu muncul karena alasan ingin menyegerakan kebaikan, bukan karena iri pada teman-teman dan ingin segera menikah karena tuntutan sosial.

Terlepas dari apakah telah memiliki pasangan atau belum di umur itu, aku masih berpikir bahwa munculnya keinginan itu adalah suatu hal yang wajar. Terlebih, jika sebelumnya telah pernah merasakan bertahun-tahun bertahan berjuang untuk ketidakpastian. Akan tetapi, semua waktu yang terlewatkan tersebut berakhir dengan hal yang sangat mengecewakan dan membuat diri merasa sungguh tidak dihargai. Bahkan, membuat diri merasa sangat tidak layak dihargai, oleh diri sendiri. Aku rasa wajar, jika perasaan yang muncul selanjutnya adalah keinginan untuk berjalan di jalan yang pasti dan diberkahi.

Bukankah keinginan setiap wanita adalah dimuliakan oleh orang yang benar-benar menyayangi dan disayanginya?
Bukankah keinginan setiap wanita adalah merasa bahwa dirinya berharga bagi orang yang benar-benar menyayangi dan disayanginya?
Dan tidaklah seseorang mampu memuliakan satu sama lain, kecuali dengan jalan yang diridhoi Tuhannya.
Jadi, aku pikir wajar jika perasaan tersebut muncul di usia yang memang semestinya telah berada di fase itu.

Aku rasa setiap orang pasti akan bahagia jika orang yang ia sayangi memilih untuk memuliakannya. Tidak peduli ia laki-laki ataupun perempuan. Jadi semestinya, para pria yang wanitanya telah menunjukkan keinginan untuk segera, berbahagia. Demikian pula sebaliknya. Semestinya begitu bukan?

Aku yakin pasti ada ragu, terlebih jika memang kondisi yang ada secara rasional belum memungkinkan untuk mengeksekusinya. Namun, bukankah kebaikan itu perlu keberanian di tengah keterbatasan dan halangan yang ada? Maka itu, hadiahnya surga, bukan permen. Dan aku yakin, jika memang berniat untuk kebaikan, semesta akan mendukung dan jalan-jalan menuju kebaikan itu akan terbuka bagi niat itu.

Jadi, hanya perlu membulatkan tekad dan memperjuangkan jalan itu bukan?

Kecuali memang tidak ada niatan itu.

– hanya catatan seorang wanita yang sedang memikirkan banyak hal dan masih terjaga di fajar hari ini –

Menulis, dan kebahagiaan.

Tidak mudah menemukan orang yang sepemahaman dengan kita, orang yang mampu memaknai pernyataan kita sebagaimana makna yang ingin kita sampaikan. Karena itu aku menulis, membiarkan orang lebih mampu mengulang untuk lebih memahami dengan sebenar-sebenarnya mengenai maksudku. Ya, bagi mereka yang benar-benar mau mencoba mengerti. Karena memahami lewat membaca tulisan, lebih tidak terdistraksi oleh ego pribadi. Otak dan hati akan bekerja berulang, untuk memperoleh pemaknaan yang senyatanya. Tapi sekali lagi, hanya bagi mereka yang benar-benar mau mencoba mengerti. Ya, tidak mudah menemukan orang yang mau mengulang-ulang memaknai tulisanmu, kecuali ia ingin sebenar-benarnya memahami kamu, perasaan, pemikiran, dan sudut pandangmu. Oleh karena itu, ketika menemukan orang yang menyukai dan memahami tulisanku, aku bahagia. Sesederhana itu. Dipahami dan dimengerti oleh seseorang adalah nikmat Tuhan yang amat patut untuk tidak didustakan.