Namaku Sholihah… (Part 2)

Sholihah’s Diary

Terimakasih Tuhan untuk hidupku.

Ya,  ternyata aku masih bisa mengingatMu meskipun aku bukanlah Sholihah yang dulu sering menengadah padaMu itu..

Aku tidak tahu Tuhan, apakah aku masih layak untuk menghadap padaMu, karena  pemenuhan tanggungjawabku sebagai Sholihah sangat lah minus andai para tenaga audit mu menilai kelayakanku. Kau berhak memecatku, bahkan. Ya, sangat berhak.

Aku bimbang…

Aku ingin meminta padaMu, tapi layakkah aku meminta, jika saja memenuhi kewajibanku padamu aku sungguh sangat tidak mampu ?

Aku ingin kembali menjadi Sholihah.

Bisakah ?

Ataukah sebaiknya aku pergi ke kantor catatan sipil, membuat idenditas baru sebagai Bukan Sholihah ?

Aku ragu….

Apakah sangat terlambatkah ?

Apakah aku bisa ?

Di usia ini,

Sholihah ingin meminta pendamping yang mencintaiMu, tetapi Sholihah sendiri telah begitu sangat jauh berpaling dariMu…dia bukan lagi Sholihah.

Apakah itu tidak terlalu serakah ?

Apakah ada peluang untuk itu ?

Kau bahkan berhak untuk menyengir sinis menertawakan permintaanku yang tidak tahu diri ini Tuhan… Aku tahu.

Tapi aku juga heran, mengapa kau lahirkan aku ke dunia sebagai Sholihah, lalu  kau tuliskan jalanku untuk menjadi bukan Sholihah, dan aku kini begitu merasa bersalah karena aku menjadi bukan Sholihah melalui jalan yang telah kau tuliskan itu ?

Ini membingungkanku.

Hatiku begitu kosong. Kebahagiaan yang aku peroleh selama aku adalah Bukan Sholihah ternyata membuat hatiku ini begitu kosong. Aku ingin lagi, lagi, dan lagi… aku terjebak dalam kebahagiaan yang membuat hatiku begitu kosong.

Kosong ini Kau sediakan untuk tempat apakah ?

Aku mengisinya dengan berbagai kesukaanku, berbagai pencapaianku, tapi kosong itu masihlah ada di sana….Menganga, menertawakanku, Bukah Sholihah.

Aku bingung.

Aku lelah.

Begitu gersang rasanya menjadi Bukan Sholihah. Sedangkan untuk menjadi Sholihah begitu berat bagiku, dan aku telah terlalu jauh untuk mengingat cara dan merasa layak untuk menjadi Sholihah lagi.

Menangis ?

Bukan Sholihah sudah terlalu lelah untuk itu. Menangis hanya membuatnya menjadi semakin haus akan kebahagiaan yang membuat hatinya kosong itu. Tangki tersebut penuh, tetap saja terasa kosong. Dan berulang.

Ah, baiklah. Seperti ini saja aku menyapaMu hari ini.

Aku malu.

Aku permisi, aku akan kembali menjalankan hidupku, Bukan Sholihah.

Memperjuangkan dan menceritakan kami, para Sholihah. Okai, Sholihah yang bimbang. Uhm, baiklah, mantan Sholihah.

Ah, whatever. Damn it.

to be continued…..