Bucket list

I never expected to have a person who must have a lot of money, a person who can always buy me a lot of expensive things as their gift, a person who must have a lot of expensive car that can we use when we go everywhere, a person who can be romantic all the time, a person who can always treat me breakfast/lunch/dinner in expensive restaurant, a person who is popular, a person who is have highest position in work, a person who has a lot of skills, a person who is really handsome and has lean athletic body, a person who is perfectly ‘sholeh’.

 

 

I never expected those things, things that always most of women expected from man.

I just want to have a person who is sincere and want to fight for me and my happiness, no matter how hard the situation is, no matter how much they must sacrify theirself for that…. without feeling suffered for doing that.

I just want to have a person who can feel enough, happy, lucky to have me by their side and will do anything to keep me by their side.

I just want to have a person who always happy to have me around, who always miss me when i’m not arround, and show it to me that i’m meaningfull for them and they don’t want to lose me.

 

 

I just hope to be accepted and loved as the way i am, no matter how my condition is. I just hope, they’re still there when i’m down, let me cry on their shoulder, listening to and understanding what i feel,  support me no matter when and how their condition is ..

 

I just hope to be treated and respected as human. They asked my opinion, listen, and respect that. They let me do things as the way i want to do that. They involve me in discussion before deciding and assuming something, without anger, defenssive, and ego that can’t be controlled. They let me to choose any outfit that i want and not expected me to dress like other person’s style who isn’t me. They let me express my feeling wholely.

 

 

I just hope the way i love and care are accepted, respected, understood, and make them happy.

I just want to be me, and they are happy of me being me.

I’m not telling that i don’t want to try to follow what they want.  I just wish them to open their eyes and heart more. Until now,  if they want to open their eyes and heart deeper, they will know how many things i’ve sacrified to try to follow what they want, how hurt my feeling is to try to always put asside my need and ego even when i’m down and sad and really need them to be around to help me overcome that, how hurt my feeling is  how hurt my feeling is to try to stay calm and understanding when they can’t listen, understanding, and control their emotion to me even when i’m in down, sad, and depressed time. I just wish they can respect that, how hard i tried to make them happy was.

 

I just wish that.

is that possible for me, God ?

Advertisements

Behind the scene – very late post trash

“ Menyakitkan itu adalah ketika kamu tahu, kamu ternyata tidak seberharga itu untuk orang yang (dulu) kamu percaya sangat menganggapmu berharga “

Tujuh tahun lebih bersama, tetapi tidak ada hitungan dua bulan dia sudah bersama seseorang yang baru.

Aku sempat sangat marah padanya, ketika dia memutuskan untuk mengakhirinya tetapi dia tetap meminta aku menunggu dan memperbolehkannya menghubungiku, “seperti kakak adik”, ujarnya saat itu. Hatiku sangat sakit mendengarnya, ia seperti mempermainkanku, tidak ingin aku pergi tetapi memutuskan berpisah denganku. Jahat. Memang aku apa, pikirku saat itu, kenapa dia sampai sebegitu tega meremehkanku seperti itu. Perasaan sakit itu masih ditambah ketika ia berkata bahwa ia tau aku wanita kuat, jadi bisa menerima permintaannya untuk mengakhiri hubungan kami waktu itu. Orang yang dulu paling mengetahui bahwa aku sangat rapuh di balik ‘kuat’ nya tampilanku,saat itu ikut berkata bahwa aku kuat. Betapa sudah tidak terlihat lagi keinginannya untuk menjadi orang yang ada ketika aku rapuh.
Sejak saat itu aku mencoba sangat keras untuk tidak menghubunginya lagi, meskipun aku telah begitu sayang, rindu, dan tergantung padanya, ya, dia yang selalu begitu sabar menghadapi aneka rupa tingkah bocahku, termasuk ketika aku meledak hingga membentak bentaknya. Dia yang hanya dengan suara lembut dan menenangkannya saja, mampu membuatku yang seharian begitu lelah menjadi tenang. Dia yang begitu mengayomiku, hangat, rumahku untuk kembali. Dia yang selalu memprioritaskanku, berupaya menyenangkanku dengan kejutan-kejutan dari hasil jerih payahnya tanpa aku minta. Dia yang selalu menemaniku ketika kami berdekatan, setiap harinya tanpa keluh bahwa dia bosan. Dia yang begitu dewasa, tanpa keluh meskipun hidupnya sangat keras di usianya yang masih muda, dia menghadapi begitu banyak masalah dan bekerja keras untuk memperbaiki taraf hidupnya. Dia yang emosinya begitu stabil meskipun fisiknya lelah dan sangat amat banyak kesibukan, tidak pernah sekalipun aku dibentaknya hanya karena alasan dia sibuk dan lelah, tidak pernah sekalipun aku diabaikannya di tengah kesibukannya, prioritasnya adalah aku dan perasaanku, aku tidak perlu merengek untuk dimanjakannya. Dia yang tidak pernah mengataiku meskipun aku sedang sangat berlebih berat badannya, ia malah memarahiku ketika aku diet amat keras karena takut aku sakit. Dia yang selalu mendukungku, membangun rasa percaya diriku dengan terus memuji kelebihan-kelebihanku, dia yang selalu mendukung ide-ide gilaku dan membuatku nekat melakukan sesuatu yang awalnya aku pikir aku tidak mampu. Dia yang selalu siap membantuku tanpa aku minta, tanpa keluh.

Aku berusaha keras untuk tidak menghubunginya lagi, meskipun seringkali di tengah malam aku sesenggukkan memikirkannya dan kami yang harus berpisah, meskipun hampir setiap harinya aku tertawa penuh kesibukan dengan hati yang begitu mati rasa. Meskipun beberapa kali dia menghubungiku lagi, aku tetap berusaha keras untuk tidak terlalu dekat. Aku takut aku semakin tidak bisa mengikhlaskannya. Aku takut dia berharap padaku sedangkan aku tidak bisa menjamin apakah ke depannya kedua orangtuaku akan merestui kami, aku tidak mau melukainya. Aku juga takut, semakin sulit baik bagiku ataupun baginya untuk saling mengikhlaskan nantinya, jika memang kami akhirnya benar-benar tidak berjodoh. Mungkin saat itu ia berpikir bahwa aku tidak menganggapnya penting dengan berlaku seperti itu, tapi itu aku lakukan justru karena aku tahu, aku tidak mudah untuk mengikhlaskannya pergi (lagi) (nanti), aku sangat menyayanginya. Terlebih, saat itu dia sudah memilih untuk pergi. Aku tidak ingin dia tinggal hanya karena aku tidak ikhlas dia pergi, itu bukan pilihannya.

Kemudian tiba-tiba aku memperoleh kabar itu, dia sudah bersama dengan perempuan itu. Dan itu akhirnya memberikanku penjelasan, mengapa tiba-tiba pesannya tidak pernah datang lagi. Sakit rasanya begitu mendengar kabar itu. Dia yang memintaku menunggu dan berkata bahwa dia akan memperjuangkanku agar kedua orangtuaku nantinya setuju. Aku benci, dia mempermainkanku. Itu respon pertamaku saat itu. Aku, yang saat itu masih memilih sendiri, karena ucapannya saat itu, begitu merasa sangat amat sesak. Sebegitunya ia tega mempermainkanku. Ternyata aku memang tidak seberharga itu untuk diperjuangkan, tidak sebaik itu untuk diseriusi. Aku benar-benar merasa dicadangkan, hanya diperlukan jika dia kesepian. Apakah kebersamaan kami selama 7 tahun itu benar-benar semudah itu baginya untuk dilupakan…. ? 😥

Tapi kemudian aku mencoba menata emosiku, aku mencoba memilih untuk tidak membencinya. Ya, sebelumnya saat terakhir kami berbicara pun,ketika ia berjanji untuk menjemputku nantinya setelah ia berjuang demi restu orangtuaku, aku bilang padanya jika memang dia menemukan yang lebih baik untuknya maka tidak apa-apa. Sebenarnya saat aku mengucapkan hal tersebut aku merasa sesak, tapi aku merasa akan lebih tidak adil jika aku ‘mengikatnya’ karena dia berjanji seperti itu, padahal belum tentu ortuku nantinya akan setuju. Aku mencoba mengingat perkataanku itu sembari mengikhlaskan diri… aku sudah berbicara seperti itu, meskipun saat itu ia bersikeras berkata akan membuktikan diri dan memperjuangkanku.

Aku berusaha tidak membencinya, dan mengikhlaskannya, meskipun pada akhirnya aku tahu ternyata aku tidak seberharga itu baginya, seseorang yang sempat pernah benar-benar membuatku percaya bahwa aku adalah dunianya. Aku berusaha berpikir, dia sudah bahagia dengan orang lain, bukankah itu layak baginya setelah begitu lama ia begitu sulit karena harus terus berjuang untuk restu orangtuaku dan begitu sulit karena ia terus sabar menghadapi tingkah lakuku ? iya, dia layak untuk lebih bahagia, walaupun aku harus ikhlas bahwa bahagianya itu bukan denganku. Saat itu aku mencoba berbesar hati untuk terus berpikir seperti itu, mensugesti diriku seperti itu agar aku tidak membencinya. Bagaimanapun, dia pernah begitu membuatku bahagia disayangi dengan setulus itu. Maka aku harus mengikhlaskannya bahagia, dengan yang lain.

Waktu pun berlalu, tidak pernah ada kata maaf darinya karena dia tidak menepati perkataannya sendiri saat dulu kami memutuskan berpisah. Aku tertawa. Ya, aku tidak sebaik itu untuk diseriusi.

Dan kemudian, aku menemukan bahwa akun sosial medianya diganti passwordnya, bukan lagi namaku, melainkan nama perempuan itu. Dan ada percakapan mereka di chat, yang menjelaskan bahwa ternyata mereka bertukar akun. Itu menjelaskan, mengapa baru dalam hitungan belum ada dua bulan sejak kita berpisah, sudah terpajang foto mesra mereka berdua di sosial medianya. Foto yang begitu memancing banyak teman-temanku menanyaiku tentangku dan dia, dan itu membuatku semakin terluka karena harus terus menjawab bahwa kami sudah tidak bersama. Terlebih, begitu banyak foto mereka di timeline. Teganya dia, saat itu pikirku, bagaimana aku harus menjelaskan pada begitu banyaknya yang bertanya. Tapi kemudian aku tahu mengapa bisa begitu. Aku tidak percaya dia setega itu, dan ternyata mungkin memang benar, bukan dia yang mengunggahnya (semoga). Itu juga menjelaskan mengapa pesanku di sosial media tidak ia gubris ketika aku meminta barang2ku yang tertinggal dan kutitipkan padanya untuk dikembalikan padaku. Itu juga menjelaskan mengapa pesanku tidak ia balas saat meminta barang-barangku yang tertinggal dan kutitipkan dulu , mereka bertukar nomor hp.

Kemudian aku juga tahu, panggilan sayang yang dulu kami gunakan untuk satu sama lain, saat ini mereka gunakan. Sakit rasanya. Benar-benar merasa dibuang begitu saja tanpa sedikitpun dipikirkan perasaanya.

Aku tidak percaya ia mampu berlaku seperti itu, itu bukan seperti dia yang aku kenal bertahun-tahun Tapi ya sudah lah. Mungkin aku yang memang tidak seberharga itu untuk diperjuangkan.

Hatiku begitu sakit…. 😥 Tapi aku masih bersikeras memilih untuk tidak membencinya.

Aku benar-benar menjadi sangat tidak percaya diri dengan diriku sendiri, aku, dibuang begitu saja olehnya (yang dulu katanya) mencintaiku dan serius denganku. Iya, aku tahu, terimakasih untuk menyadarkanku, aku tidak seberharga itu. 😥

Teman-temanku terus mengolok-olokku (dengan serius maupun bercanda), aku pernah begitu lama menjalin hubungan (yang saat itu aku pikir serius), tetapi pada akhirnya tidak jadi ke jenjang yang serius. Kubiarkan mereka berpikir bahwa aku yang mengakhirinya. Aku berupaya menyimpan perlakuan dia padaku, karena bagaimana pun dia pernah begitu baik terhadapku. Aku tidak bercerita tentang semua ini pada mereka. Hanya sahabat terdekatku yang tahu alasan sebenarnya mengapa kami berpisah. Mereka mengolok-olokku karena dulu tidak mengikuti saran mereka untuk mengakhiri semuanya dengannya, yang menurut mereka saat itu tidak layak untukku. Iya, aku terus memperjuangkannya saat itu, meskipun sekitarku berkata untuk sudahi saja. Aku tertawa pada candaan mereka, walau dalam hati aku tertohok. Mereka tidak tahu bagaimana aku berjuang untuk menjadi “baik-baik saja” lagi.

Mungkin aku yang saat itu terlalu naïf, mempercayainya dan berharap padanya.

Terimakasih untuk pelajaran darinya, untuk tidak percaya pada siapapun, sedalam apa pun aku menyayanginya, sedalam apapun ia berkata bahwa ia menyayangiku dan berkata serius denganku. Waktu kebersamaan yang begitu lama, mawar merah, cokelat dan boneka kesukaanku yang rajin diberikan, cincin, dan romantisme lainnya bahkan juga bukanlah jaminan bahwa aku diseriusi. Tampaknya hanya menikah lah yang merupakan bukti nyata bahwa aku dianggap berharga dan layak untuk diperjuangkan. Mungkin. Entahlah aku sudah tidak tahu lagi bagaimana mengetahui apakah aku disayangi dengan tulus atau tidak, karena dia yang dulu aku rasa begitu tulus ternyata pada akhirnya (juga) berlaku seperti itu padaku. 😥

Jika boleh aku membenci, aku ingin membencimu. Tapi tidak, sudah bukan waktunya lagi untuk membenci seseorang. Aku ingin menjadi lebih tenang dan bijaksana.

Terimakasih, untuk begitu banyaknya bahagia yang ternyata berujung hening dan pilu yang begitu menyayat, di penghujung cerita itu.

Terimakasih untuk pelajarannya, kamu, nama yang jika aku bisa, tidak pernah aku temukan dulu.

 

What kind of men do women look for ?

Banyak yang bertanya, lelaki seperti apa sih yang dicari para wanita ?

Jawaban yang muncul kemudian beragam dan bervariasi antar wanita yang mencari lelaki untuk “pacar” dan wanita yang mencari lelaki untuk “suami’.

 

Setiap wanita pasti akan mengalami fase- fase perkembangan dalam hidupnya. Di setiap fase tersebut,  jawaban atas pertanyaan tadi akan berubah, seiring dengan beragam pengalaman dan proses pendewasaan diri yang dihadapi dalam fase-fase tersebut.

Fase pertama, remaja awal, katakanlah ketika duduk di bangku SMP/ SMA. Pada fase ini,  ketika ditanya tentang seperti apa ‘cowok’ yang dicari, kaum wanita akan menjawab beragam, yang biasanya seputaran hal berikut ini : ” ganteng/ manis, jago main alat musik, jago olahraga, populer, lucu, romantis, perhatian, pengertian, ketua organisasi ini itu, pintar, dan beragam jawaban terkait dengan kriteria fisik lainnya”. Untuk saya pribadi, pada fase itu, prioritas jawaban saya adalah sebagai berikut :

  1. Perhatian
  2. Pengertian
  3. Romantis
  4. Smart

Kriteria saya sebelumnya tadi kemudian bertambah akibat pengalaman tidak menyenangkan ketika memiliki “pacar” di fase SMP. Jawaban tersebut  kemudian bertambah dua kriteria ketika saya di bangku SMA, yaitu : setia dan dewasa. Saya tidak mau benar-benar menyayangi seseorang, tetapi kemudian orang tersebut berpikiran dengan pola pikir bocah/ tidak dewasa dan tidak bisa ‘belajar serius’ dalam suatu hubungan.

 

Fase kedua, remaja akhir, katakanlah di bangku perkuliahan S1 awal- pertengahan. Pada fase ini kebanyakan jawaban wanita adalah: ” Ganteng, setia, dewasa, perhatian, pengertian, kaya, populer, modis, tipe ketua organisasi, punya bisnis/kerja sampingan/ skill dan segudang prestasi lainnya akan menjadi nilai tambahan.”

Jawaban tersebut selanjutnya akan bertambah dengan kriteria terkait : “agama, perilaku, cara memperlakukan keluarga, dan kemandirian” ketika memasuki fase ketiga: dewasa awal. Pada fase ketiga ini, wanita mulai berpikir lebih serius mengenai lelaki seperti apa yang diinginkannya. Oleh karena itulah, kriteria sejenis kriteria fisik menjadi berkurang tingkat prioritasnya. Ganteng, tinggi, dll akan menjadi urutan ke sekian dalam jawaban mereka. Meskipun memang kriteria terkait fisik tersebut masih ada, kriteria tersebut biasanya sudah tidak semuluk saat mereka di fase pertama dan kedua. Pada fase ini, kriteria fisik sudah mulai bergeser ke “good-looking”/ sesuai preferensi masing2 dan bukan streotype tentang “cowok ganteng” di kalangan wanita secara umum. Pada fase ini, bagaimana seorang pria “berprospek” menjadi calon pendamping hidup mulai menjadi fokus dari kriteria kaum wanita.

 

Bagi saya sendiri, pada fase kedua, prioritas kriteria saya menjadi:

  1. Sabar
  2. Pengertian
  3. Penyayang
  4. Perhatian
  5. Bisa dipercaya untuk menjaga rahasia
  6. Setia
  7. Menghargai saya
  8. Menjaga saya
  9. Tenang
  10. Dewasa
  11. Bisa bekerja
  12. Tidak egois
  13. Memprioritaskan saya.
  14. Smart
  15. Good looking: senyumnya manis, matanya teduh, mendamaikan.

 

Di fase ketiga, prioritas kriteria saya tersebut berubah menjadi:

  1. Seagama, baik agamanya dan bisa membimbing saya
  2. Bisa diterima dengan baik oleh keluarga saya
  3. Keluarganya baik, tidak ribet, tidak saling mencampuri urusan satu sama lain terlalu dalam,  dan bisa menerima saya dengan sangat baik tanpa saya harus kesulitan ‘mengubah’ diri.
  4. Tidak kebanyakan mengatur
  5. Tidak egois
  6. Memperlakukan saya dengan setara, tidak merasa paling benar, dan menghargai pendapat saya.
  7. Dewasa
  8. Sabar banget.
  9. Bisa bekerja keras, mau bekerja apa saja, tidak malas, dan tidak banyak mengeluh
  10. Bisa menjaga rahasia terkait dengan pasangan dan keluarga pasangan serta rahasia terkait hubungan dengan pasangan (example: kekurangan pasangan, apa yang tidak disukai pasangan).
  11. Menghargai saya
  12. Memprioritaskan perasaan dan keadaan saya
  13. Smart, tidak apatis pada kondisi sekitar
  14. Bisa saya percaya tanpa harus saya ada di sekitarnya. Tidak membuat saya was-was / insecure
  15. Mendukung psikologis saya, memuji kelebihan saya dan membangun kepercayaan diri saya,
  16. Selalu bisa melihat kelebihan dan sisi positif saya, baik dalam sikap maupun sifat.
  17. PEKA.  Bisa menempatkan diri dan ‘membaca situasi’ untuk bersikap tepat sesuai dengan kondisi yang dihadapi pasangan.
  18. Bisa mengayomi dan memanjakan pasangan. Romantis dan manis. Tanpa diminta.
  19. Tidak menggurui, bisa membimbing tapi tidak menyakitkan hati dan merasa paling benar, menghargai pilihan pasangan, bisa melihat ‘selah’ pasangan.
  20. Bisa diandalkan kapan saja tanpa diminta.
  21. Tidak merasa ketika dia berupaya menyenangkan saya dia tertekan untuk berubah. Dengan kata lain, tulus menyayangi saya.
  22. Pandai menempatkan diri sesuai situasi
  23. Dengannya saya bebas bercerita apa saja dan seekspresif apa saja tanpa takut dia akan menceritakan pada orang lain, tanpa takut dijudge dan dikomentari negatif. Dengan kata lain: “mendengarkan saya.”
  24. Good looking: Senyumnya manis dan menenangkan, rapi, imut sekaligus terlihat tenang (ada sisi sosok bocah dan sosok dewasa dalam penampilannya)

Namun, di fase ini saya sempat berpikir: ” ah sudahlah, aku tidak tahu seperti apa yang aku cari. Biarkan Tuhan saja yang menentukan. Aku hanya ingin semuanya berjalan natural, tanpa adanya pemenuhan kriteria-kriteria tertentu. Jika suka, ya suka saja. Karena selama ini , aku punya kriteria seperti apa juga pada akhirnya ketika aku sudah suka ya aku bisa apa?  semua kriteria tersebut seakan tidak ada gunanya. ”

Fase keempat. Fase pencarian pendamping hidup. Pada fase ini, kebanyakan wanita memiliki kriteria yang hampir mirip dengan kriterianya di fase ketiga. Namun, pada fase ini, wanita mulai semakin berpikir serius : sebenarnya apa sih yang dia cari. Kemudian kriteria tersebut akan mengarah lebih lanjut pada: kenyamanan, kedamaian, rasa percaya dan keyakinan untuk menjadikannya ayah bagi anak-anaknya kelak, dan satu-satunya lelaki yang tidak akan meninggalkannya dan meremehkannya ketika dia sudah memberikan segalanya bagi lelaki itu kelak.

 

Saat ini, saya sedang menuju fase keempat. Jawaban saya ?

untuk sementara ini… :

kurang lebih sama dengan kriteria saya di fase ketiga. Sedikit tambahan:

yang berani memutuskan serius untuk serius dengan saya dan bersama sama memperjuangkan keseriusan itu. yang mau bersama- sama menjadi pribadi yang lebih baik dan belajar mengerti, mendukung, dan memahami pribadi, pola pikir, sikap, kepribadian satu sama lain.

yang memikirkan dan berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi saya dan keluarga kecil kami kelak.

yang bisa menjadi teladan yang baik untuk anak-anak saya kelak.

yang menyayangi keluarganya, namun tidak egois untuk juga memprioritaskan saya dan keluarga saya.

yang mempunyai prinsip baik, dewasa, sabar, dan tenang. yang mau bekerja keras, bertanggung jawab, visioner/ punya target-target yang jelas dan kuat untuk pengembangan dirinya dan kebahagiaan keluarga kecil kami kelak.

Bisa berani mengambil keputusan sendiri tanpa dipengaruhi keluarga besarnya.

Sabar, mau mendengarkan saya, mengayomi dan melindungi saya.

Memprioritaskan kebahagiaan saya dan anak- anak saya kelak.

Bijaksana dan mampu menenangkan.

Bisa membuat saya tidak insecure/ tidak aneh-aneh ketika saya tidak ada di sekitarnya/ tidak bisa mengingatkannya.

Menghargai dan mendukung pilihan saya.

 

Itu sih, mungkin. Saya tidak tahu. Saya lelah.

Ya intinya, yang membuat saya tidak merasa tidak diperlakukan dengan tidak baik serta membuat saya yakin, dia serius dengan saya. Yang mau berjuang untuk melakukan apa saja dalam rangka membuktikan diri bahwa dia berusaha membahagiakan dan menjadikan diri “lebih baik dan lebih layak” untuk mendampingi saya dan ayah dari anak saya kelak. Yah, mungkin itu akibat pengalaman terakhir saya sebelumnya, jangka waktu hubungan yang sangat lama, kedekatan yang begitu dekat, dan bahwa bicara “serius” itu belum tentu benar-benar menunjukkan bahwa lelaki itu “serius” dengan seorang wanita. Intinya, di fase ini, saya sudah lelah dengan ketidakpastian dan diambangkan untuk menunggu tanpa benar- benar ditunjukkan adanya niatan untuk serius dan menghargai saya sebagai wanita yang pantas untuk diseriusi.