Kisah sebotol lem, dari ruang kesenian.

Sebotol lem,

 
dan lembaran kertas beraneka warna.

 
Tugasnya hanyalah merekatkannya, dan ketika mereka sudah tergabung sebagai suatu karya yang indah, pada akhirnya posisinya akan kembali ke rak kayu tua di ujung sana, mungkin memang itulah posisinya yang sebenarnya. Karna kehadirannya sudah tidak lagi diperlukan. Ada maupun tidak ada dia tidak lagi menjadi masalah karna toh kertas-kertas warna itu sudah menyatu menjadi kesatuan karya yang indah. Ada maupun tidak ada dia, tidak ada lagi yang mempedulikan. Kertas-kertas warna itu tengah menikmati harmoni sebagai suatu karya yang indah.

 
Betapa ia pernah berupaya merekatkan kertas-kertas warna itu dengan penuh kasih, tidak ada yang menyadari, tidak ada yang peduli. Ia adalah sebotol lem, bukan kertas warna. Hingga sulit keberadaannya dipahami oleh masing-masing karya yang telah ada. Karya-karya itu perlu eksistensinya yang nyata sebagai suatu harmoni. Sedangkan ia, sebagai sebotol lem, tidak bisa selalu ada menemani satu karya saja, ia perlu melanjutkan tugasnya merekatkan kertas-kertas warna lainnya. Dan impian terbesarnya sebagai sebotol lem, jika mungkin, adalah menyatukan karya-karya itu. Dan mungkin apa yang dilakukannya itu dianggap sebagai sebuah pengkhianatan, penegasan bahwa ia bukanlah bagian dari satu kesatuan karya manapun. Mungkin ia dianggap meninggalkan, padahal kasihnya sedemikian besarnya, tidakkah kertas-kertas warna itu merasakannya? Ah, mungkin bisa saja kasihnya juga dipertanyakan.

 
Mungkin ia terlalu tidak nyata, hingga keberadaannya bukanlah dianggap sebagai suatu kesatuan. Betapa ia pernah berupaya merekatkan kertas-kertas warna itu dengan penuh kasih, mungkin itu hanya dianggap bagian dari sejarah. Sejarah, ya seperti namanya, hanyalah sejarah, diingat hanya jika terpaksa, diingat hanya jika ingat, sisanya, cukup ada di dalam sana di sana, pada tumpukan buku tua di sudut perpustakaan yang temaram. Tak terjamah.

 
Ah. Terlalu banyak mungkin. Ia lalu menghentikan mungkin-mungkin itu. Tidak bijak rasanya memungkin-mungkinkan.

 

 

Ia bertanya pada karya karya itu,

 

Karya karya itu hanya memandang ganjil disertai aura yang ganjil, yang menegaskan perkataan:

 

“ Siapa kamu?”

 

 

Pada karya –karya itu ia berkata: “aku rindu”.

 

 

Sunyi.

 

 

Ah, ruang kesenian itu bisa begitu sunyi rupanya.

 

 

Ah mungkin hanya melankolisme sebotol lem.
Bukankah ia sudah terbiasa. Karna memang mungkin itulah tugasnya ada dan diciptakan di dunia. Ya, itulah fungsinya. Merekatkan, dan memandangi indahnya hasil rekatan itu dari kejauhan, dari tempat duduknya pada rak kayu tua di sudut ruangan.

 

Tidak perlu lagi sebotol lem. Warna-warna itu sudah begitu indah menyatu dalam karya-karya itu. Ia akan memandanginya dari kejauhan. Penuh kasih. Tanpa gugat.

 

Mungkin nanti, jika ia telah habis, dan yang tertinggal darinya hanyalah botol kosong tempat ia pernah tersimpan, kertas-kertas warna itu akan menyadari, bahwa ia pernah ada dan juga merupakan bagian dari harmoni ruang kesenian itu.

 

Kepada karya-karya itu, dan kertas –kertas warna yang menyusunnya, salam sayang.

Kita pernah tinggal di satu tempat yang sama, bernama ruang kesenian.

– sebotol lem, dari sudut ruang kesenian-

 

 

– Yogyakarta, 12 April 2014 –

Tentang sebotol lem

By: Yara

 

 

 

 

Dear Rain

Jika kenangan buruk lah yang lebih selalu diingat ketika hujan turun, ketika malam sepi, ketika musik mengalun, ketika sendiri…

maka tidakkah lebih baik aku menjadi kenangan buruk itu…?

untuk lebih diingat,

ketika hujan turun

ketika malam sepi

ketika musik mengalun

ketika sendiri….

 

Jika kenangan buruk lah yang selalu ada dalam benak,

maka tidakkah lebih baik aku menjadi kenangan buruk itu ?

 

Jika kenangan buruk lah yang selalu mampu membuat  hati sesak,

maka tidakkah lebih baik aku menjadi kenangan buruk itu ?

 

karna mungkin hanya dengan menjadi kenangan buruk itu,

kamu baru akan mengingatku, selalu….

 

karna mungkin hanya dengan menjadi kenangan buruk itu,

kamu baru akan menghargai kehadiranku, selalu…

 

karna mungkin hanya dengan menjadi kenangan buruk itu,

kamu baru akan merasakan perasaanmu padaku, selalu…

 

maka tidakkah lebih baik aku menjadi kenangan buruk itu ?

untuk sepenuhnya memiliki hati dan pikiranmu, kapanpun, dimanapun, tanpa celah sedikitpun untuk siapapun…

 

maka tidakkah lebih baik aku menjadi kenangan buruk itu ?

untuk sepenuhnya memiliki kamu…

 

 

– Yogyakarta, 16 November’ 14-

mungkin lebih baik begitu

by: Yara

Malam sunyi kuimpikanmu

Kulukiskan cita bersama

Namun s’lalu aku bertanya

Adakah aku di mimpimu
Di hatiku terukir namamu

Cinta rindu beradu satu

Namun s’lalu aku bertanya

Adakah aku di hatimu
Reff:

T’lah kunyanyikan alunan-alunan senduku

T’lah kubisikkan cerita-cerita gelapku

T’lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku

Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu
Bila saja kau di sisiku

‘Kan ku beri kau segalanya

Namun tak henti aku bertanya

Adakah aku di rindumu

 

Back to Reff

Tak bisakah kau sedikit saja dengar aku

Dengar simfoniku

Simfoni hanya untukmu….

 

Back to Reff

T’lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku

Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu