It’s nice to be read.

 

Saya agak takjub membaca tulisan ini, ya karena penulisnya adalah seorang laki-laki. Dari membaca tulisan ini saja sudah dapat terasa betapa penulis  tulus dan tidak mementingkan egonya saat menuliskan tulisan ini. Betapa beruntung wanita yang ia tuliskan dalam tulisan ini, pemikiran penulis ini menarik, berbeda dengan kebanyakan.  Subhanallah, masih ada laki-laki seperti ini yang Engkau ciptakan, Tuhan. Perbanyaklah. Amin.

 

 

Tulisan di bawah ini saya kutip dari sebuah blog:

http://rullytricahyono.wordpress.com/2014/06/21/berterima-kasihlah-kepada-istrimu/

 

 

Here we go….. :

 

Berterima Kasihlah kepada Istrimu

 

Seorang teman kuliah (perempuan) pernah berkata kepada saya, “Menjadi kalian (lelaki berpendidikan tinggi) itu sebetulnya sangat mudah. Istri kalian bisa mencari uang sendiri, yang mereka butuhkan hanyalah kasih sayang”. Mendengar ucapannya saya terdiam. Apa yang ia ucapkan memang betul. Sebagai para lelaki yang mengenyam pendidikan tinggi, maka biasanya para perempuan yang berhasil kami persunting sebagai istri adalah mereka yang berpendidikan tinggi juga. Dalam kasus saya dan teman-teman di ITB, istri-istri kami tidak jauh dari alumni ITB juga, dokter Unpad, atau para perempuan yang mengenyam pendidikan di unversitas-universitas yang bagus.

 
Melihat latar belakang pendidikannya, wajar jika kemudian mereka mendapatkan kesempatan untuk memperoleh karir yang bagus. Dalam hal karir, para perempuan itu tidak perlu merasa kalah dari para lelaki. Asalkan memiliki kinerja bagus, posisi setinggi apapun di tempat kerjanya sangat mungkin diperoleh.

 
Namun, ada satu hal yang terkadang bisa “menghambat” karir istri, yaitu pernikahan. Sebagai orang timur, sebagian besar dari kita menganut paham bahwa, “langkah perempuan itu tidak panjang”. Artinya, pada umumnya istri akan mengikuti suami. Misalnya ternyata suami harus pindah pekerjaan ke luar daerah, maka biasanya istri akan “mengalah” dan mengikuti suami. Dalam hal ini tentu istri berkorban sangat besar karena bisa jadi dengan kepindahan itu dia harus meninggalkan pekerjaannya. Kalaupun bisa mendapatkan pekerjaan baru, tidak ada jaminan bahwa di tempat barunya itu dia bisa mendapatkan karir yang sama bagusnya dengan karir di tempat asalnya.

 

 

Saya sendiri paham betul dengan hal ini. Ketika menikah di tahun 2012, saya yang masih baru memulai karir sebagai dosen di ITB harus berangkat ke Belanda untuk menempuh pendidikan doktor. Saya dan istri ingin agar kami tidak berpisah terlalu lama. Terdengar mudah bukan? Istri saya tinggal menyusul ke Belanda maka kami pun akan dapat berkumpul kembali. Permasalahan selesai.

 
Sayangnya kenyataan tidak semudah itu. Waktu itu istri saya masih terikat kontrak di tempat kerjanya sehingga dia baru bisa menyusul hampir setahun kemudian. Tetapi bukan cuma itu permasalahannya. Istri saya sering berpikir. Nanti kalau di Belanda apa yang akan ia kerjakan? Apa aktivitas yang bisa dia punya? Bagaimana jika tidak bisa bertemu teman-teman dan keluarganya dalam jangka waktu lama?

 
Apakah salah jika seorang istri mempunyai pikiran sedemikian rupa? Tentu tidak. Saya pun sering punya pikiran yang sama. Lelaki akan menjadi makhluk yang sangat egois jika ia berpikir bahwa istrinya harus menurut sepenuhnya mengikuti dirinya kemanapun karir membawanya. Istri saya waktu itu masih baru beranjak 23 tahun. Ia lulus cum laude dari Teknik Industri ITB dengan persentil 94 di angkatannya. Sebuah prestasi yang tidak semua orang bisa dapatkan. Waktu itu dia sedang bekerja di salah satu BUMN terbesar di Indonesia dan hampir selalu unggul dari sisi penilaian kinerja.

 
Kalau saja ia tidak perlu ikut ke Belanda, dalam beberapa tahun mungkin dia akan bisa mendapatkan posisi yang sangat bagus di tempat kerjanya. Kalau saja istri saya tidak perlu ikut ke Belanda, dia bisa dengan mudah membeli beberapa barang yang teman-temannya bisa beli. Kalau saja ia tidak perlu ikut ke Belanda, secara materi mungkin kami akan lebih baik dan kami tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana nanti mencicil rumah, mobil, pendidikan anak, dsb.

 
Dan atas segala kesempatan bagus yang istri saya lewatkan untuk dengan ikhlas mengikuti suaminya, apakah saya harus jengkel kalau ia mempunyai sebersit rasa khawatir tentang masa depannya di Belanda? Tentu tidak. Istri saya punya rasa khawatir karena dia berpendidikan tinggi, karena dia pintar. Dengan itu dia sebetulnya punya kesempatan yang besar untuk bisa sukses. Tetapi dia dengan rela meninggalkan itu demi suaminya. Apakah ini bukan wujud cinta yang tulus dari seorang istri ke suaminya? Lagipula kalau dipikir, memang kriteria pendidikan tinggi dan pintar adalah kriteria yang saya tentukan dengan sadar ketika hendak memilih istri. Maka rasa khawatir itu adalah konsekuensi yang harus siap saya terima.

 
Wahai para suami. Istri-istrimu yang berpendidikan tinggi memiliki rasa khawatir kalau harus meninggalkan karirnya bukan karena ia takut kehilangan uang banyak, bukan juga karena takut kehilangan status sosial. Penyebabnya adalah ia tidak terbiasa harus diam di rumah pada saat sebelumnya disibukkan dengan berbagai kegiatan pada saat kuliah. Inilah yang menjadi tanggung jawab kita untuk ikut memikirkan solusinya.

 
Saya sering merasa berdosa kalau saya harus “merampas” masa muda dan kesempatan istri saya hanya karena ia harus mengikuti saya. Saya selalu berusaha memberikan pengertian bahwa yang penting dapat berkumpul bersama dulu. Yang penting bahwa istri itu harus pintar dan berpendidikan tinggi supaya anak-anak kami mendapatkan pendidikan dasar yang bagus. Maka saya sangat bersyukur ketika istri berhasil mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan magister di Rijksuniversiteit Groningen mulai bulan September 2014. Paling tidak dia juga mendapatkan nilai tambah dengan ikut saya ke Belanda.

 
Pada akhirnya, memang fitrah seorang istri untuk selalu mengikuti suami. Tetapi posisi sebagai pemimpin keluarga tidak lantas membuat kita egois dan tidak ber-empati kepada istri. Maka para suami,

 

Jangan hanya memikirkan karirmu. Istrimu mungkin meninggalkan karirnya demi majunya karirmu

Jangan tersinggung kalau didebat istrimu. Itu tanda kalau ia pintar, dan ia mendapatkan kepintaran itu dari pendidikan yang kalian para suami tidak mengeluarkan uang sepeserpun

Jangan pelit kepada istrimu. Dia rela mengorbankan kesempatannya untuk mengikuti dirimu. Padahal tidak ada jaminan bahwa dirimu akan lebih sukses darinya

Jangan pelit untuk mendoakan istrimu. Setiap sehabis sholat istrimu selalu mendoakan dirimu

Jangan bersikap kasar kepada istrimu. Suatu saat kamu akan ingat, bahwa selain ibumu, dia lah orang yang paling lembut sikapnya terhadapmu

Jangan tinggalkan istrimu karena suatu saat kamu sukses. Pada saat sekarang kamu belum sukses, hanya istrimu lah yang tulus mencintaimu

Berterima kasihlah kepada istrimu. Ia sudah cukup banyak berkorban untukmu dan tidak pernah meminta ucapan terima kasih

Groningen, 21 Juni 2014 jam 21:01 CEST
untuk Istriku tercinta
If I have to die a thousand times, I will always choose you on every re-birth 🙂

Asli, envy. Sweet banget pemikirannya. Standing applause.

Note.

Kopas dari tulisan orang di salah satu alamat web.. :

 

 

Disaat kamu ingin melepaskan seseorang.. , ingatlah pada saat kamu ingin mendapatkannya…

Disaat kamu mulai tidak mencintainya… , ingatlah saat pertama kamu jatuh cinta padanya…

Disaat kamu mulai bosan, ingatlah selalu saat terindah bersamanya…

Disaat kamu ingin menduakan, bayangkan jika dia selalu setia…

Disaat kamu ingin berbohong, ingatlah saat dia jujur padamu…

Maka kamu akan merasakan arti dia untukmu..

Jangan sampai disaat dia sudah tidak disisimu, baru kamu sadari:

Yang indah hanya sementara,
Yang abadi adalah kenangan,
Yang ikhlas hanya dari hati,
Yang tulus hanya dari sanubari,
Tidak mudah mencari yang hilang, tidak mudah mengejar impian,

Namun, yang lebih susah adalah:

 

“mempertahankan yang ada”

meski sudah tergenggam, bisa lepas juga..

Ramadhan Tahun Ini… #Day 22

Malam ini, aku iseng membuka akun-akun media sosialku.

 

Di akun path ku, ini yang pertama aku baca, posting-an salah seorang teman:

 

Mr. RIGHT won’t distract you from your Lord. If he distances you from Allah, he’ s Mr. WRONG.”

lalu, di akun FB ku,

Satu catatan lagi yang aku peroleh, di malam ini…..

agak hening, ketika membacanya….

 

 

inilah yang pertama kali aku lihat ketika web menampilkan akunku pasca log in, sebuah artikel dari salah satu akun yang aku ikuti :

 

 

Wahai diri..,

Jika memang kau mencintainya karena Allah
Cintailah dia dengan cara yang benar
Cintailah dia pada saat yang tepat…

 

 

Ya Robb..
Aku tak akan memaksakan diri hanya untuk sebuah perasaan

Ya Robb..
Jika dia memang jiwa yang telah Kau pilihkan untukku, berikanlah kami jalan dan petunjuk
Jika dia memang takdir bagi ku, pantaskanlah dia untuku dan pantaskanlah diriku untuknya…

Ya Robb..
Aku memilihnya karena sebuah keyakinan
Aku terima seluruh kelebihan dan kekurangannya
Aku terima seluruh luka dan bahagia yang menyertai hidupnya
Aku terima dirinya dengan seluruh apa yang telah Engkau berikan untuknya…

Ya Robb..
Jika ada dua pilihan dan diantaranya adalah dia, tentu aku akan memilihnya
Jika ada sepuluh pilhan dan diantaranya adalah dia, tentu aku akan memilihnya
Jika ada seratus pilihan dan diantaranya adalah dia, tentu aku akan memilihnya
Dan jika hanya ada satu pilihan, dan tidak ada dia dalam pilihan itu…
Maka aku pun akan menerimanya sebagai pemberian terbaik dari Mu…
Aku tidak akan memaksakan diriku untuk memilihnya
Karena Engkaulah yang Maha Mengetahui
Karena Engkaulah yang Menciptakanku
Karena Engkaulah yang Memelihara diriku…

 

 

Ya Robb…
Jika dengan menutup cinta ini yang menjadikan Mu Ridhlo kepadaku,
Jika dengan mengorbankan perasaan ini Engkau menyelamatkanku,
Di saat manusia tergelincir dari jalan-Mu,
Maka aku serahkan cinta ini untuk Mu..
Sebagai wujud bakti ku pada Mu,
Sebagai wujud syukurku pada Mu…

Ya Muqollibal Qulub, Tsabbit Qolbi ‘ala Diinika..
Aku yakin bahwa tidak ada Ketetapan Mu yang salah,
Aku yakin bahwa semua Kehendak Mu sangat terukur,
Buatlah aku mencintai pilihan yang Kau berikan,
Buatlah aku setia pada pilihan yang Kau berikan,
Buatlah aku menyayangi pada pilihan yang Kau amanahkan…

Ya Robb..
Dengan segala Kekuasaan Mu,
Dengan segala Kekuatan Mu.
Dengan segala Keagungan Mu,
Hamba mohon pada Mu,
Kuatkanlah hati ini saat ketetapan Mu membuat hati ini terasa sempit…
Tenangkanlah hati ini saat ketetapan Mu membuat hati ini terasa berat…
Sesungguhnya hanya dengan PertolonganMu, diri ini bisa menjalani semua ketentuanMu…

Ya Robb buatlah diriku mencintai Mu lebih dari segala makhluk yang telah Engkau Ciptakan…
Ya Robb buatlah diriku mencintai Rosululloh, karena Engkau pun mencintainya(Rosululloh)…

 

 

 

Inilah isi hatiku, inilah harapanku, inilah keyakinanku…
Aku tidak hanya mencintaimu..
Tapi aku ingin mencintaimu karena Allah,
Aku ingin mencintaimu dengan cara yang benar,
Aku ingin Alloh Ridhlo dengan cinta ini,
Tak usah khwatir jika engkau adalah Qudrah dan Irodah Nya,
Karena semuanya pasti akan terwujud, hanya waktu yang akan menjadi saksi kekuasaan Nya…..
Tak usah memaksakan jika dia memang bukan untuk diriku,
Karena pasti aku bukan yang terbaik untuk mu…

Sehebat apapun cinta ini…
Tidak akan pernah bisa menyelamatkan kita, saat matahari hanya satu hasta di atas ubun2 kita…
Karena yang terbaik adalah…
Kita menjaga perasaan dan keyakinan ini dengan sebersih-bersih ketauhidan…
Kita diwafatkan bersama hamba-hamba yang berbakti,
Hamba-hamba yang mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya untuk Tuhan nya…
Semoga Allah mempertemukan kita kembali disatu tempat,
Dimana para abid melihat Robb-nya dengan penuh keridhloan dan kebahagiaan…

 

 

Kulakukan semua ini, karena aku mencintaimu karena Allah swt…

Aamiin

 

 

 

 

 

 

……Hening…….

……………………………………………………………………………………………………….

 

– Ungaran, 20 Juli 2014-

Day 22

By: Yara

Ramadhan Tahun Ini… #Day 20

Hari ke 20. dan malam ini adalah malam ganjil.

 

Entah kenapa, sore ini aku iseng mengetikkan query “sholehah” di google. Aku membaca-baca artikel yang muncul dari query tersebut. Aku tertarik pada kisah ini. Kisah bagaimana kekuasaan Allah mengabulkan doa-doa hambanya yang benar-benar sungguh-sungguh meminta dan berharap.  Jika Allah berkehendak, maka apapun akan dapat terjadi. Kun Fayakun.

 

Ada kalimat-kalimat yang paling mengena bagiku dari artikel ini, yaitu:

 

  Janganlah pernah putus asa…jika Tuhanmu adalah Allah…
          Cukup ketuklah pintuNya dengan doamu yang tulus…
          Hiaslah do’amu dengan berhusnudzon kepada Allah Yang Maha Suci
          Lalu yakinlah dengan pertolongan yang dekat dariNya…

Kalimat itu tepat  mengena sekali pada hatiku, dengan keadaan yang sedang aku hadapi saat ini. Aku memperoleh “pelukan”- Nya lagi….

Terimakasih Tuhan…

 

Here we go…ini adalah versi lengkap dari cerita yang aku baca pada artikel tersebut:

 

Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata :

Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami.

Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun… Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa’) tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya…

Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.

Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki.

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur’an padahal umurnya kurang dari 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.

Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun. Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah.

Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya.
Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku…
Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.

Putriku bercerita :

Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai. Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-.

Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, “Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??”

Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam do’aku, “Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa ‘Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut’aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…

Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…”

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh.

Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., “Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?”. Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku…

Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, “Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!”. Maka aku berkata kepadanya, “Aku ini putrimu Asmaa'”. Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.

Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : “Subhaanallahu…”. Dokter yang lain dari Mesir berkata, “Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…”. Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata, اللهُ خُيْرًا حًافِظًا وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak..??

Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa’ akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma…

Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do’a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo’ kecuali do’a…barang siapa yang menjaga syari’at Allah maka Allah akan menjaganya.

Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…

Ini adalah kisahku sebagai ‘ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup…

Maka ketuklah pintu langit dengan do’a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah….
Demikianlah….Alhamdulillahi Robbil ‘Aaalamiin (SELESAI…)

          Janganlah pernah putus asa…jika Tuhanmu adalah Allah…
          Cukup ketuklah pintuNya dengan doamu yang tulus…
          Hiaslah do’amu dengan berhusnudzon kepada Allah Yang Maha Suci
          Lalu yakinlah dengan pertolongan yang dekat dariNya…

(sumber : http://www.muslm.org/vb/archive/index.php/t-416953.html , Diterjemahkan oleh Firanda Andirja)

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 19-11-1434 H / 25 September 2013 M
http://www.firanda.com

Subhanallah… :’)

– Ungaran-

20 Ramadhan

By : Yara

Ramadhan Tahun Ini… #Day 19

Hari ke 19.

 

Malam ini aku lewati di dalam gerbong kereta Jakarta-Semarang. Ini pertama kalinya aku bepergian jarak jauh dengan menggunakan kereta. Kesan pertama:  menyenangkan (aku rasa memang seharusnya begitu, kenyamanan yang diterima harus sebanding dengan harga yang dibayar). Yang jelas, perjalanan ini tidak terasa begitu lama, mungkin karena tempo jalan kereta yang cepat dan pemandangan yang berganti begitu cepat di balik jendela gerbong, mungkin karena fasilitas yang diberikan begitu nyaman, mungkin karena aku menghabiskan waktu dengan membaca dan menulis, atau mungkin karena aku sedang tidak berminat memperhatikan sekitarku dan waktu yang berlalu.

 

Aku tidak paham dengan kondisiku saat ini. Aku merasa kosong.

 

Terimakasih Tuhan, Engkau kirimkan sahabat-sahabat yang sangat baik untukku. Mereka yang mampu membangkitkanku dan menenangkanku kembali dalam sepersekian detik dari kondisi terendahku hanya dengan satu dua kalimat mereka. Mereka yang selalu rela berkorban apapun untuk membantuku dan menemaniku. Mereka yang begitu peduli dan perhatian terhadap kesulitanku  dan mampu membaca kesedihan-kesedihanku yang aku sembunyikan dari mereka. Mereka yang begitu menyayangiku, setulus itu. Engkau keren, Tuhan. Syukurku. Mohon mudahkanlah urusan mereka dan berkahilah mereka selalu, Tuhan.. Amin..

 

Tuhan…

peluk aku.

Engkau tahu apa yang sangat aku butuhkan saat ini, Tuhan…

Aku tahu Engkau tahu…

Aku yakin.

 

Aku pasrahkan padaMu…

 

– Stasiun Tegal, Argo Sindoro-

19 Ramadhan, kereta malam

By: Yara

 

 

 

 

Ramadhan Tahun Ini… #Day 14

Alhamdulillah untuk kesempatan yang Tuhan beri (lagi) untuk (mencoba) (mengupayakan) pencapaian impianku (lagi).

 

effort-ku ternyata dimintaNya hingga sampai tingkatan yang seperti ini.

 

Ah...honestlyhigher pressure is happening here.

 

“now or never”

Tuhan…aku merasa benar-benar hanya butiran dzarah…

 

Pinjamkanlah kekuatanMu, Tuhan…

 

La haula wala quwwata ila billah….

tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolonganMu….

 

 

I beg You…

I (really) want to reach it….

You know how much i want to reach it, don’t you, God?

Please…Help me…

Amin…

 

 

 

Ramadhan Tahun Ini… #Day 12

Aku tertarik dengan kisah ini, kisah ulat dan nabi Sulaiman a.s. , yang diceritakan oleh khatib saat khotbah menjelang tarawih di masjid dekat rumahku malam ini:

 

Alkisah, ulat dianggap binatang yang sangat hina dan menjijikkan, kehadirannya tidak diterima dimanapun, bahkan banyak yang ingin membunuhnya. Ulat ,yang kemudian tidak sanggup lagi menghadapi tekanan tersebut, akhirnya menghadap kepada nabi Sulaiman. Ia memohon dan bertanya bagaimana  caranya agar ia dapat menjadi binatang yang lebih baik lagi dan agar ia dapat diterima dan disayangi oleh sekitarnya.

Nabi Sulaiman pun bertanya kepada ulat, apakah ulat benar-benar berniat menjadi lebih baik lagi dari dirinya yang sebelumnya. Ulat kemudian mengutarakan kesungguhan niatnya, bahwa ia bersedia melakukan apapun untuk dapat menjadi binatang yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Nabi Sulaiman lalu mengatakan kepada ulat:

” Jika engkau benar-benar berniat untuk menjadi lebih baik lagi maka berpuasalah, dan berdzikirlah:

“Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar”

Ulat, yang sudah benar-benar berniat untuk berubah menjadi lebih baik lagi, akhirnya melakukan apa yang dikatakan nabi Sulaiman . Ia berpuasa selama berhari-hari sembari banyak melafalkan dzikir. Selama berpuasa, ia menghadapi banyak ujian, tapi karena ia sudah benar-benar berniat untuk menjadi lebih baik lagi, ia tetap teguh berpuasa. Akhirnya, setelah berhari-hari berpuasa, ia berubah menjadi kepompong. Ulat, yang kini sudah menjadi kepompong, masih ingin menjadi lebih baik lagi. Akhirnya ia melanjutkan berpuasa. Setelah berhari-hari berpuasa sembari memperbanyak dzikirnya, ia pun berubah menjadi kupu-kupu yang cantik. Kehadirannya pun menjadi begitu disukai oleh sekitarnya. Ulat tersebut berhasil menjadi dirinya yang lebih baik lagi dari dirinya yang sebelumnya.

Khatib tersebut lalu menambahkan hikmah di balik cerita tersebut. Bahwa untuk menjadi lebih baik lagi, seseorang dapat melakukannya dengan berpuasa dan memperbanyak dzikir. Berpuasa yang dimaksud di sini bukan hanya sekedar berpuasa ramadhan, melainkan berpuasa dalam arti yang lebih luas, yaitu: menahan diri dari semua bentuk hawa nafsu (termasuk menjaga emosi, dll) . Khatib tersebut juga menyatakan bahwa untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi, seseorang tersebut harus benar-benar berniat dan berupaya keras, seperti si ulat tadi. Khatib tersebut juga mengingatkan bahwa hanya seseorang tersebut lah yang dapat mengubah dirinya sendiri menjadi lebih baik lagi, bukan orang lain, seperti yang dinyatakan dalam ayat Allah QS. Ar- Ra’d (11) :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”

Oleh karena itu, Khatib tersebut melanjutkan dan mengajak, untuk senantiasa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dengan sungguh-sungguh berniat dan berupaya keras, karena hanya diri sendirilah yang mampu mengubah diri menjadi lebih baik lagi, bisa dimulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu namun konsisten ataupun jugalebih baik lagi jika mampu langsung bertransformasi. Caranya? berpuasa dan memperbanyak dzikir.

 

 

Jrengg jreeenggg….

 

gw kalah sama si ulet tadi.

 

*background effect: daun ketiup angin malem*

 

wuzzzzzz ~

 

*mlipir ke pojokan*

 

– Ungaran, 10 juli 2014-

Day 12

By: Yara