Ramadhan Tahun Ini…#Day 2

“Nikmat Tuhan kamu manalagi yang mau kamu dustakan?”

Hari kedua.

 

Diawali dengan ujian semester yang….alhamdulillah bisa lancar dikerjakan. Soal yang keluar sesuai dengan prediksi..Semoga hasilnya maksimal. Amin…:)

 

Aku bersyukur memilikinya, dia yang tidak pernah lelah berusaha memahami aku. Dia berupaya menenangkan aku, dengan caranya yang lucu. Ya, aku bilang lucu, karena dia terlihat kebingungan bagaimana caranya menenangkan aku, tetapi dia terus berusaha menenangkan aku. Manis.

 

Menghabiskan waktu dengan teman-teman lama terasa begitu menyenangkan. Tuhan menjawab keinginanku dan kegelisahanku di saat yang tepat. Tuhan Maha Keren.

 

Dia begitu manis hari ini, Tuhan…

Tepat di saat aku sedang begitu merindukannya, merindukan bentuk perhatiannya itu, Kau berikan lagi skenario yang membuatnya tergerak untuk memberikan bentuk perhatiannya itu tanpa aku minta. Tepat di saat aku sangat merindukan beberapa kebiasaan-kebiasaannya memperhatikan aku, yang mulai jarang ia lakukan lagi.  Tepat di saat aku baru mulai berpikir, mungkin aku tidak akan pernah lagi memperoleh bentuk perhatiannya yang kerapkali aku terima sebelumnya. CaraMu bekerja sungguh sangat lucu, Tuhan. Aku terharu.

Aku begitu senang hari ini Tuhan…Aku rindu dengan suasana itu, lalu Kau memberikannya lagi dengan begitu mudahnya… Aku sedang sangat ingin bermanja, dan Kau memanjakan aku dengan caraMu itu.

Maafku, hari ini aku serakah…bermanja berlebihan. Mungkin aku begitu rindu dan senang hingga aku menjadi begitu manja hari ini. Mungkin aku sedang sedemikiannya butuh dimanjakan…dengan kondisiku yang sedang begitu “di bawah” akhir-akhir ini. Maaf  Tuhan, maaf juga untuknya.

Aku bersyukur, Engkau kirimkan ia yang sangat menyayangiku… Aku menyayanginya, Tuhan. Jika ia memang adalah jawabanMu, maka jagalah ia Tuhan…, jaga perasaannya itu untukku, agar tidak berkurang sedikitpun, agar bertambah dan terus bertambah setiap waktunya. Seperti yang tidak bisa aku cegah sedang terjadi pada diriku ini. Amin.

 

Thanks God, i’m blessed, You sends people who loves and cares for me..:)

 

– Jogjakarta, June 30th 2014-

Day 2

by: Yara

 

 

Advertisements

Ramadhan Tahun Ini… #Day 1

Tahun ini aku akhirnya memutuskan untuk mengeksekusi satu hal lagi dari daftar ” to do list” – ku  yang tertunda semenjak bertahun-tahun lalu, yaitu:

Menuliskan cerita, pengalaman, dan pelajaran yang aku peroleh di bulan Ramadhan, dari hari ke harinya.

Bismillah. Semoga konsisten. 🙂

 

Sedih, di hari pertama puasa tahun ini aku tidak dapat berpuasa, yes, because of women stuffs. Padahal tahun ini berbeda, pertama kalinya aku menjalani Ramadhan  di Jogjakarta, kota impianku. Aku penasaran bagaimana rasanya menjalani puasa dan ramadhan di Jogjakarta, kota impianku ini. Tapi ya sudahlah, akhirnya aku memutuskan untuk bersyukur, aku mencoba mencari hikmah dari tidak bisanya aku ikut berpuasa di hari pertama ini, di minggu pertama puasa tahun ini. Dan, tadaaaa… setelah lama berpikir dan merenung, aku memperoleh pencerahan, mungkin Allah bermaksud memberikanku waktu lebih untuk belajar menghadapi ujian semester program studi masterku, karena aku tidak perlu solat tarawih dulu. Hehe. Mungkin. 🙂

Awalnya aku berniat mengawali puasa hari ini dengan “menjajal” pengalaman sahur di Jogjakarta. Aku merencanakannya dengan saudara sepupuku, yang kebetulan juga berkuliah di Jogjakarta. Namun, sayangnya aku terlambat bangun, hahaha, batal lah rencana itu.

 

Ramadhan seringkali mempererat kembali silaturahmi yang sempat lama terputus dengan orang-orang terdekat kita. Di hari pertama ini, itulah hikmah yang aku dapatkan. Aku iseng membuka fitur chat di salah satu akun jejaring sosialku, dan beberapa teman lama menghubungiku. Senang sekali rasanya bisa kembali menjalin silaturahmi dengan mereka. Semacam ada perasaan, ” ah mereka masih menganggap aku ada”. Senang sekali mengetahui kabar terakhir mereka.

Salah satu dari mereka yang menghubungiku lagi adalah seorang teman yang aku peroleh di desa KKP-ku, Banjarnegara. Aaah aku begitu merindukan dia, dan anak-anak lain di desa itu… mereka begitu manis sekali bersikap kepadaku, menganggapku seperti saudara mereka sendiri. Aku rindu. Tahun lalu mereka menangis ketika aku berpamitan pulang satu persatu ke rumah mereka. Betapa tidak. Kami sering menghabiskan waktu bersama, setiap hari ngabuburit, tarawih, dan tadarus malam bersama, dan bahkan khataman Al-Qur’an bersama. Mereka yang ada untuk menguatkanku, ketika aku harus menghadapi ujian hidup yang aku hadapi waktu itu. Mereka, orang asing yang bukan siapa-siapa ku yang justru memperlakukanku seperti teman akrab, dan bahkan saudara kandung. Mereka yang menyayangiku begitu tulus. Aaah, betapa aku menyayangi mereka…Aku memperoleh banyak keluarga baru di sana.. Aku rindu… :’))))

Bercakap kembali dengan mereka selalu mengingatkanku terhadap hikmah ramadhan yang aku peroleh tahun lalu, kebersamaan dan kedamaian yang aku peroleh dengan beribadah di bulan Ramadhan secara kontinyu, konsisten, dan khusyu. Kedamaian yang aku peroleh saat berpuasa, beribadah di mushola mereka, bersilaturahmi ke rumah orang-orang baru, mengajar anak-anak TK…dll.  Ya keindahan berbagi dengan mereka yang secara kasat mata memiliki kondisi yang tidak sebaik yang aku punya. Semua itu mampu menguatkan jiwaku, yang saat itu begitu lemah ketika menghadapi cobaan hidup yang sedang aku terima.

Merekalah yang menjadi motivasiku untuk terus bertahan, dan bersyukur, bahwa masih ada orang-orang yang mampu melihat dan merasakan niat baik kita dan tidak mensalahartikannya. Maka tetaplah berbuat baik, meskipun saat berbuat baik, begitu banyak pihak yang iri, dengki, mencemooh, mengsalahartikan, dan membencimu. Tetaplah berbuat baik, karena pada akhirnya ketulusanmu akan tersampaikan kepada mereka yang juga benar-benar tulus. Tetaplah berbuat baik, karena berbuat baik itu bukan urusan mengenai bagaimana orang lain memandang perbuatan baik kita sebagai baik atau buruk, melainkan kewajiban kita, kita dilahirkan ke dunia oleh Tuhan adalah untuk berbuat baik dan bermanfaat bagi sesama, tidak peduli orang lain mau berkomentar dan memberikan stigma seperti apa. 🙂

Ah terimakasih ya Allah, kau kirimkan mereka waktu itu. Terimakasih pula kau kirimkan temanku itu hari ini, mungkin engkau bermaksud untuk mengingatkan aku kembali, bahwa tidak peduli ada berapa banyak orang yang “sedang lupa” pada kita, “sedang benci” pada kita, akan selalu ada orang yang menyayangi kita dengan tulus.  Thanks God, caraMu begitu indah.

 

Hari ini aku juga melihat sisi keindahan lain dari orang terdekatku…Aku tidak pernah melihat sosoknya yang seperti itu. Entah kenapa ia terlihat lebih, … emmm…. “cerah”.. ah aku tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya… yang jelas aku sempat tertegun dan malu saat melihatnya tadi. Ada aura berbeda di sekelilingnya (><)  hehe. Engkau Maha Lucu Tuhan.. hehe, caramu membuatku tidak berhenti tersenyum dan bersyukur bahwa Engkau mempertemukanku dengan dirinya itu begitu lucu. Hehe. Mohon senantiasa lindungi dan bimbing dia di jalanMu, Tuhan. Aku menyayanginya. Ridhoilah, jika memang itu yang terbaik untukku maupun untuknya. Amin. :))

 

Hari ini menghabiskan waktu dengan sepupuku juga terasa begitu menyenangkan. Aku bersyukur, dengan aku berkuliah di Jogjakarta, kau eratkan hubungan silaturahim kami, Tuhan. Terima kasih.. 🙂

 

Hari ini aku merasa begitu damai…

innerpeace yang sempat hilang beberapa waktu terakhir ini tiba-tiba aku rasakan kembali. Terimakasih Tuhan… entah bagaimana caraMu mengembalikannya…. aku senang… energi negatif yang begitu meliputiku beberapa waktu terakhir ini tiba-tiba tercerahkan. Semoga selalu mampu seperti ini…Berkahilah aku Tuhan, aku ingin menjadi hambaMu yang lebih baik lagi dan membahagiakan sekitarku…tolong bantu aku mempertahankan innerpeace-ku, agar aku tidak menularkan energi negatif ke sekitarku…aku ingin berbagi energi positif untuk mereka, Tuhan. Berkahilah. Amin. :))

Hari pertama masih belum berakhir, aku penasaran, Tuhan…Apalagi hikmah yang hendak Engkau kirim padaku di hari ini. Aku percaya, semua yang engkau skenariokan itu pasti memiliki maksud…Mudahkanlah aku “membaca” maksud-maksud itu, Tuhan. Aku ingin memahamiMu… 🙂

Amin. 🙂

 

Selamat berpuasaa!

Ah aku tidak sabar ingin segera menyusul berpuasa dan tarawih di kota ini…. :))

 

– Jogjakarta, June, 29th 2014-

Day 1

By: Yara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Unfinished… (Part 2)

15 Desember 2013

Ah,

Andai kamu tahu, Mas Bayu.

sayangnya kamu tidak tahu,

dan sayangnya, aku tidak ingin memberi tahu.

 

Duduk di sampingmu seperti ini adalah salah satu hal yang selalu aku rindukan. Meskipun, aku tidak tahu pasti apa yang membuatku selalu merindukan kebersamaan ini. Dengan kamu, bagian yang hilang itu seperti kutemukan.

Sesederhana rasa sedih yang tiba-tiba mereda dengan sejuknya hembusan angin. Sesederhana penat yang tiba-tiba hilang dengan bersantai di tepi pantai. Sesederhana tangis yang tiba-tiba mampu terburai setelah sangat lama terpendam. Sesederhana merasakan hangatnya sinar mentari pagi yang mencerahkan. Sesederhana damainya memandangi arakan awan putih pada birunya langit. Sesederhana bulir hujan yang membasahi dan mengobati lelah. Sesederhana itu. Berada di sampingmu.

Iya mas Bayu, sesederhana itu aku merasakan bahagia ketika duduk bersamamu, seperti saat ini. Menuliskan tentangmu, dengan  kamu yang berada di sebelahku, dan kamu yang tidak tahu bahwa yang sedang aku tuliskan adalah tentangmu.

Tapi aku tahu, ini semua tidak sesederhana itu. Rasa ini sungguh tidak sederhana. Aku tidak memahaminya. Dan memandangimu, yang kulakukan untuk mencoba menemukan pemahaman, justru semakin membuatku tidak memahaminya.

Terlebih, aku juga tidak tahu, Mas. Bagaimana aku harus memposisikan diri terhadapmu? Mau aku apakan dan kemanakan perasaan yang membingungkan ini ?

Aku tidak berhak. Tempat itu adalah milik Mbak Risna, dia yang selalu menceritakan tentangmu, tentangmu, dan tentangmu. Dia yang paling bersedih ketika kamu bersedih. Dia yang paling bahagia ketika kamu bahagia. Dia yang pada akhirnya menjauh dan terluka karena kamu tidak menyadarinya (atau menyadarinya tetapi tidak mau menggubrisnya). Dia, yang tidak lain adalah kakakku, yang sangat aku sayangi.

Baiklah, sekarang kita asumsikan aku punya hak.

Aku dan kamu berbeda keyakinan, Mas. Aku tahu, kamu sangat kuat memegang keyakinanmu. Dan aku tahu, kamu sulit untuk mengubah keyakinanmu. Aku pun tidak mau memaksa kamu untuk berpindah keyakinan hanya karena aku, aku ingin jika kamu mengubah keyakinanmu itu adalah karena dirimu sendiri, untuk dirimu sendiri. Dan aku tahu itu tidak mudah, Mas. Butuh waktu. Entah sampai kapan.

Lalu mau aku kemanakan perasaan yang membingungkan ini?

Berulang aku berusaha menghilangkannya, menghentikannya, sebelum semakin membuatku jatuh ke dalamnya. Berulang pula ia kembali, dan berkembang. Padahal kamu mungkin saja tidak merasakan yang sama kan, Mas? Hanya aku, yang terjatuh. Dan mungkin nanti kamu justru pergi.

Maka “tidak berharap” adalah hal yang ada di prioritas utamaku saat ini.

 

Andai kamu tahu, Mas, ini semua tentang kamu.

 

 

 

 To be continued…

 

– written @ March, 20th, Jogjakarta; late post-

 

 

 

di balik seorang pria, di Jogjakarta…

Hai, taman di depan kost, sudah beberapa bulan semenjak terakhir kali aku menulis di sini.

 

Dimengerti ketika kamu sedang berada dalam kondisi tersedihmu itu entah mengapa sangat mengharukan, bahkan oleh orang asing yang tidak pernah kamu kenal sama sekali. Tuhan malam ini menunjukkan satu skenarionya yang indah lagi. Skenario tidak terduga yang entah bagaimana mampu membuatku tersadar, Tuhan (selalu) peduli kepada setiap hambaNya.

 

Malam ini, duduk di bangku taman ini, diiringi angin dan hujan, aku lemah.

 

Menunduk di meja taman, tersedu, sesenggukan.

 

Aku tidak sadar, ada pria itu, dengan sepeda tuanya, mengais sampah tepat di luar pagar kostku, di seberang meja tempatku tertunduk.

 

Hingga akhirnya aku mendengar suara:

 

” Jangan sedih mbak….. ada saya…”

 

suara penuh perhatian tulus yang membuatku mengangkat kepalaku dan mencari asal suara itu.

 

Aku melihat sosok itu.

 

Aku mencelos.

 

Pria itu tersenyum sangat tulus, memandang dengan tatapan menenangkan dan  penuh perhatian.

 

Padahal ia hanyalah seorang asing, yang mungkin bisa saja lebih memilih untuk melanjutkan pekerjaannya, yang bisa saja memutuskan untuk tidak mempedulikan perempuan asing yang tidak ia kenal, yang sesenggukan seperti bocah di malam yang begitu dingin ini,

Tapi ia memutuskan untuk peduli…

 

Tangisku makin pecah, bercampur tawa haru…Tuhan begitu sederhana dan penuh kasih. Ia mempedulikanku dengan caraNya yang begitu manis. Menenangkanku. Menghiburku.

 

Aku tertawa kepada pria itu, aku tidak tahu bagaimana caranya berterimakasih padanya, semoga tawa bercampur tangis dan senyumku itu cukup mampu menunjukkan rasa terimakasihku padanya. Satu kalimat tulus itu entah kenapa mampu membuatku semakin melepaskan perasaan-perasaan sesak yang aku tahan dengan sesenggukan. Aku tertawa, bercampur airmata yang tidak bisa aku bendung. Senyum pria itu seperti menunjukkan “rumah”, penenangan, kepedulian. Perasaanku begitu campur aduk…ada perasaan ingin menghambur, mengadu kepadanya….

 

Aku pun tertawa, dan makin menangis…. hujan makin mencampurbaurkan perasaanku yang bercampur aduk dengan “kepedulian” Tuhan lewat caraNya yang tidak terduga itu…

 

padahal pria itu kehidupannya begitu keras… yang justru menurutku semestinya mampu membuatnya lebih sesenggukan hebat bila dibandingkan denganku. Tapi ia justru menenangkan orang lain, yang bahkan tidak ia kenal sama sekali, yang bahkan mungkin memiliki kehidupan yang lebih ringan bila dibandingkan dengan kerasnya kehidupan yang ia jalani untuk bertahan hidup… Betapa indah hati pria itu, Tuhan. Engkau sempurna.  Menghadirkannya di waktu aku sangat memerlukan kehadiran seseorang, untuk membangkitkanku. Kasih sayangMu, Tuhan. Aku malu padaMu…

 

Tuhan…..

Kemarin kau kirimkan penenangan melalui anak-anak di panti asuhan itu.

Kemarinnya lagi kau kirimkan bantuan untuk mencari tempat yang menenangkan aku…

Hari ini kau beri rizki dimana kerja kerasku dihargai oleh sekitarku..

lalu kau kirimkan pria asing itu untuk menenangkan dan menghiburku…

 

 

Betapa caraMu menunjukkan bahwa masih ada yang menghargai, membutuhkan, dan peduli padaku itu begitu mengharukan. Iya, Engkau (masih) (selalu) peduli padaku…

 

Terimakasih Tuhan….

 

Aku tidak tahu lagi bagaimana menggambarkan perasaanku…

 

dan tangisku pun makin membuncah..

 

aku belum bisa membalas kasih sayangMu yang begitu berlimpah ini…

 

 

Ah, taman ini…

 

hujan….

 

aku teringat memori itu, ketika hujan dan duduk di taman ini, dengannya. berbicara begitu banyak hal.

 

aah, waktu-waktu membahagiakan itu. yang semoga, masih akan ada lagi di depan sana.

 

 

Tuhan……..,

mohon peluk aku.,…. sekarang.

 

 

tolong, Tuhan………

tolong………

 

 

 

 

 

 

 

 

last shettle.

Ya siapalah gue sih……

iya

siapa lah gue…

 

bisa aja sih gitu…

 

but i just don’t want to be…

because i’ve been there, and it’s really not easy to be there,with all of those conditions.

that’s why i dont want to be.

and choosed to be this one.

 

should i be that kind of ones? just like them?

i dont want to.

i’ve been there, and it’s too tiring.

should i?

 

just too tired to be …

 

all i need now is a shettle, last shettle.

a place to take a rest, a place to always get supports, a place to get innerpeace.

where i can feel safe, without pushing myself to be tired only to get that safe feeling.

where i can feel home.

 

then when i’ve found it, in that shettle, i’ll  be me, the best of me. without being insecure, at all.

 

will it be that last shettle?

 

only God who knows it.

 

too tired to guess His answer.

 

too tired.

 

 

 

Tanyakan Pada Rumput Yang Bergoyang- Melly Goeslaw

Tanyakanlah pada rumput yang bergoyang
sesudi apakah aku padamu
aku tak akan berhenti mencintaimu
sampai aku tak bernyawa lagi

* sebagai manusia yang tahu kaidah
akan ku tanamkan cinta yang sopan
sehidup semati kamu yang hidup
aku yang mati pun tak mengapa

reff:
akan ku latih hatiku ini, siap menerima apa saja
Tuhan ajari aku bersabar, membimbing rasa di hatiku
bila mataku tak bisa lagi menatap wajah cintaku ini
Tuhan tolong beri aku waktu untuk merasakan cintanya

repeat *
repeat reff [2x]

sampai ku buta, bisu, tuli, lumpuh, dan tak bernyawa lagi