Selamat, untuk kalian… :)

“Seseorang yang paling menyayangi kamu dan paling kamu sayang serta paling dapat membahagiakanmu di suatu waktu, dapat dengan mudah berubah posisinya menjadi seseorang yang paling dapat membuatmu menangis di suatu waktu lainnya.”

 

Melihatmu begitu bahagia dengan dia yang ada bersamamu saat ini membuatku lebih lega. Kamu menemukan yang terbaik untuk menggantikan posisiku di sana, di hatimu. Aku menuliskan ini bukan untuk menyatakan bahwa aku masih menyayangimu. Tidak. Aku pernah menyayangimu. Dulu.

Aku tidak munafik, melihatmu berfoto begitu mesra dengannya saat itu begitu membuatku terpukul. Belum ada hitungan bulan semenjak kita memutuskan untuk berjalan masing-masing karena alasan yang ada di luar kita berdua, dan tiba-tiba aku harus menghadapi kenyataan bahwa sudah ada dia dan kamu, di foto itu, begitu mesra. Dan di sisi sebaliknya, ada aku, yang saat itu masih terus berupaya menata hati yang begitu berantakan.. dan masih berupaya untuk kembali mengisi hidup yang tiba-tiba menjadi begitu kosong.

Dan saat itu aku hanya mampu tertawa…miris. Tidak ada lagi tangis yang mampu keluar dari mataku. Aku lega kamu menemukannya, tapi jujur saat itu perasaan begitu terpukul membuatku sungguh hanya mampu tertawa..dan tertawa..hampa.

Aku asumsikan kamu melupakan janji dan perkataanmu saat itu, untuk terus berjuang memperjuangkan kita di masa mendatang, agar di masa mendatang akan ada kita, bersama. Aku asumsikan kamu tidak pernah berkata seperti itu. Karena bila aku tetap menempatkan bahwa kamu pernah berkata seperti itu, dan aku menghadapi kenyataan seperti itu, itu hanya akan membuatku semakin terpuruk, dan membencimu. Tidak. Aku tidak ingin membencimu. Karena itu aku memilih berasumsi bahwa kamu tidak pernah berkata seperti itu. Dan memilih untuk bahagia melihatmu bahagia dengan orang yang membuatmu bahagia.

 

Pada akhirnya orang yang paling menyayangimu pun mampu berubah menjadi orang yang paling tidak mengenalmu.

Selepas dengannya, kamu tiba-tiba menghilang. Aku asumsikan mungkin kamu memang tidak pernah mengenalku, hingga bersikap sedemikian dingin dan begitu apatis terhadapku. Iya mungkin kamu memang tidak pernah mengenalku, setelah pernah bersama denganku bertahun-tahun. . Padahal dulu kamu lah yang sebelumnya berkata:

“kita masih bisa terus berhubungan baik kan dek?, kakak masih boleh telepon adek kan?, masih boleh perhatiin adek kan? ya sebagai kakak adek aja gitu..?”

 

dan kamu lah justru yang kemudian menghilang, terlebih dahulu.

Aku hanya dapat tertawa. lagi.

 

Aku pernah sedemikian percayanya padamu, dan berharap bahwa kamu adalah yang terakhir untukku. Jujur, kamu adalah orang yang sangat baik. Kamu begitu sabar, setia, taat ibadah, pekerja keras, gigih, pengertian, penyayang, dewasa, sangat peduli kepada sekitar, ulet, tidak ‘jelalatan’,  suportif. Bersamamu membuatku merasa aman, nyaman, seperti  menemukan ‘tempat pulang’.  iya…kamu yang selalu mampu untuk tetap tenang dan menenangkanku. Tidak peduli bagaimana mood-ku yang kerapkali begitu kacau seperti roller coaster,  kamu begitu mampu menenangkanku. Kamu selalu mampu menyemangati aku,  bahkan tanpa aku minta. Iya, kamu selalu mampu menyemangati aku yang memiliki begitu banyak aktivitas, keinginan, dan impian, aku yang kerapkali jatuh ketika mencoba tegar sendirian menghadapi begitu banyak tantangan dan kegagalan dalam meraih impian-impianku . Kamu selalu tahu bahwa aku sangat memerlukan kamu di waktu-waktu itu, padahal aku tidak pernah mengatakannya dan terus bersikap seolah-olah aku mampu menghadapinya sendirian. Tapi kamu tahu, dan selalu ada, tanpa aku minta. Bagaimana aku tidak semakin menyayangimu saat itu?  kamu begitu memahamiku, dan peduli padaku.

Kamu juga selalu mendukungku untuk terus mencapai lebih, lebih, dan lebih… padahal aku tahu..jauh di dalam dirimu kamu merasa minder, dan kamu pun pernah berkata demikian. Tapi kamu terus mendukungku dan juga menunjukkan padaku bahwa:  “aku bisa dan layak buat kamu, dek'”- ujarmu saat itu. Dan kamu memang membuktikannya, satu persatu targetmu tercapai. Bagaimana aku tidak begitu menyayangimu saat itu? Aku terharu melihat bagaimana kamu sedemikiannya bekerja keras dan mencapai target-targetmu.

Kamu juga selalu berusaha untuk menyenangkan aku, memberi aku kejutan-kejutan, tanpa aku minta. Padahal , untuk biaya kuliahmu saja kamu harus sedemikian bekerja sambilan sedemikian kerasnya, menabung dan mengorbankan waktu dengan teman-temanmu sedemikian kerasnya, tidak jarang pula kamu harus begitu menghemat uang makanmu dan berpuasa. Tapi kamu, entah bagaimana, selalu masih saja mampu menabung pula untuk membelikan begitu banyak kejutan-kejutan itu, tidak jarang pula kamu membuatnya sendiri. Bagaimana saat itu aku tidak semakin menyayangimu? aku sangat terharu… kamu sedemikian berkorbannya dan berusahanya untuk membahagiakan dan memanjakan aku, terlebih tanpa aku minta,  padahal kamu harus sedemikian berkorbannya untuk aku. Bukan harga dari hadiah-hadiah itu, bukan pula hadiah-hadiah itu, aku sangat terharu akan sikapmu… dan kasih sayangmu padaku saat itu. Bagaimana aku tidak semakin menyayangi kamu saat itu?

Kamu juga begitu disukai banyak perempuan. Terlebih kamu taat beribadah, cerdas, menarik, begitu santun dan baik hatinya, kamu juga petinggi organisasi-organisasi di kampus,  pioneer untuk terobosan-terobosan baru demi kemajuan kampusmu. Mereka melakukan berbagai cara untuk mendekatimu, bermanja padamu, tapi kamu tidak pernah menggubrisnya dan membatasi jarak dengan mereka.  Saat itu aku begitu bangga padamu, aku tidak pernah merasa ‘tidak aman’ dan ‘tidak tenang’ padahal di sekelilingmu begitu banyak ‘ikan asin’, kamu selalu mampu menunjukkan bahwa kamu memang layak dipercaya. Ya, aku begitu bangga, kamu adalah satu dari dari hanya sepersekian orang  dari ratusan juta laki-laki, yang berbeda. Calon ayah yang baik untuk anak-anakku kelak.

Tapi Tuhan tidak berkata demikian, rencana kita tidak berjalan sebagaimana rencana kita. Tuhan justru mengujiku dengan rentetan-rentetan peristiwa itu.  Awalnya aku masih sempat memutuskan untuk menunggumu, sebagaimana perkataanmu,

“Sekarang kita emang udah nggak barengan lagi, tapi kalo boleh kakak minta ke adek, tunggu kakak lima tahun lagi dek, kakak bakal buktiin ke ortu adek, kakak bakal perjuangin kita. Kalo kakak berhasil sukses, mungkin ortu adek bakal bisa nge-abai-in semua hal yang bikin kita pisah saat ini dek, dan kita bakal bisa barengan nantinya…pasti. kak bakal jemput adek. kak bakal buktiin.  ”

Lalu tiba-tiba datanglah kejadian-kejadian itu. Kamu menemukan yang lebih baik bagimu. Mungkin jalan untuk kita begitu berat bagimu, hingga akhirnya kamu memutuskan untuk berhenti berjuang. Ya, aku bisa apa, jika memang itu adalah hal yang kamu pilih, dan itu lebih dapat membuatmu bahagia. Aku juga sadar, jalan menuju “kita” itu begitu berat… dan jika “menuju kita” itu adalah hal yang tidak membuatmu bahagia..aku akan lebih bahagia melihatmu untuk tidak menempuhnya. Walau saat itu jujur tidak mudah untuk ikhlas mengikhlaskan kamu.

Aku sadar, bersamaku saat itu juga bukanlah hal yang mudah untukmu. Mungkin kamu merasa bahwa aku tidak menerimamu apa adanya karena aku terus menerus menyemangati kamu untuk menjadi lebih baik lagi di bidang yang kamu sukai dan kuasai. Aku sadar itu, karena seorang temanmu pernah berkata pada wanitamu itu, bahwa kamu beruntung memperolehnya yang mampu menerimamu apa adanya. Aku hanya ingin berkata, bahwa saat itu aku bukannya tidak menerimamu apa adanya, tapi saat itu aku begitu menyayangimu dan ingin kamu dapat diterima oleh kedua orangtuaku . Aku dapat menerimamu apa adanya, tapi orangtuaku? Ya kamu juga tahu bukan, seperti apa standar mereka… ? karenanya aku selalu menyemangati kamu, terus menerus. Maafku, jika dengan sikapku itu, mungkin kamu benar pernah merasa bahwa aku tidak menerimamu apa adanya.

 

Lalu aku pun memutuskan melanjutkan hidupku. mengikhlaskan kamu. Maafku aku akhirnya tidak bertahan menunggumu, seperti permintaanmu. Kamu sudah bahagia dengan dia yang lebih baik bagimu bukan, dia yang tidak membuatmu harus menempuh jalan yang membuatmu tidak bahagia untuk dapat mencapai bahagia ? Maka cukuplah kuputuskan, kuikhlaskan kamu saat itu. Aku berasumsi tidak pernah ada janji itu. Dengan demikian, bahagiamu akan sahih, tidak ternodai oleh rasa bersalahmu padaku karena tidak memenuhi ucapanmu padaku itu.

 

Dan beberapa waktu lalu aku memperoleh kabar…. pertunanganmu.

Kaget? iya. Tapi aku sudah memutuskan untuk mengikhlaskanmu.

 

 

Doaku, untuk kalian.

Dan tolong doakan pula aku, dan dia yang berada di sampingku saat ini.

 

Selamat, untuk kalian.. 🙂

 

Yogyakarta, 29 Mei 2014

Selamat, untuk kalian… 🙂

By: Yara

 

 

 

 

 

 

 

satur(e)day

apa benar semuanya pada akhirnya akan selalu berjalan seperti itu?

 

semoga tidak.

 

 

 

selalu ada pengecualian bukan ?

 

dan semoga inilah pengecualian.

 

 

yang akhirnya,  kutemukan.

 

 

semoga.

 

 

terketik di sore ini.

pada akhirnya semua akan berjalan sebagaimana semua harus berjalan.

langit akan selalu biru di pagi hari, dan gelap di malam hari.

cerah di saat cuaca baik, dan gelap di saat cuaca buruk.

semua akan berjalan sebagaimana alur yang diatur olehNya.

tanpa gugat.

 

seperti pagi yang akan selalu datang,

menggantikan gelap malam,

akan selalu datang waktu di mana kelammu akan hilang,

tersapu oleh cerah sinar mentari pagi,

perlahan.

 

dan kelam juga akan selalu datang kembali,

bila memang telah waktunya tiba.

 

semua akan berulang…dan berulang.

 

hingga tiba suatu saat nanti,

matamu terpejam,

selamanya.

 

maka tertawalah.

hidup akan selalu demikian,

hingga tiba waktunya,

semua kembali ke haribaan.

 

 

 

(masih) Mei 2014

Dear God,

Dua pertiga tahun sudah aku berada di kota ini…

Begitu banyak cerita yang Engkau atur untukku…

Alur yang aneh, semua perasaan yang demikian mudahnya menjadi  berubah-ubah secara drastis, teman-teman baru, kesibukan baru, hidup yang baru.

Begitu banyak jalan yang Engkau buka untukku meraih mimpi-mimpiku selama aku berada di sini, syukurku untuk semua itu. Sekali lagi, syukurku.

Hanya aku saja yang belum dapat memanfaatkan kesempatan yang akhirnya Engkau berikan untukku itu dengan upaya terbaikku. Yah.. mungkin upaya terbaikku saat itu masih belum merupakan upaya terbaikku bagiMu. Maka tolonglah beri aku kesempatan lagi, Tuhan. Aku ingin sekali meraihnya. Sangat ingin. Tunjukkan padaku, seperti apa upaya terbaikku yang Engkau harapkan, agar aku layak menerima kemurahanMu untuk pengabulan doa dan mimpiku itu. Tolong, Tuhan.

Tuhan, terimakasihku pula  untuk dia yang Kau kirim untukku. Aku tidak tahu seperti apa rencanaMu untukku dengan mengirimkannya. Aku hanya ingin berterimakasih, seperti apapun ke depannya nanti, aku tahu ada rencanaMu di baliknya. Maafku, Tuhan,  aku (pada akhirnya) masih belum bisa memenuhi janjiku dengan sepenuhnya (lagi). Mohon setidaknya ijinkan aku untuk memenuhi janjiku itu dengan bertahap. Aku mencoba menjadi aku yang aku janjikan padaMu itu. Maka aku mohon, mudahkanlah upayaku itu. Aku ingin menjadi lebih baik lagi menurutMu. Mudahkanlah Tuhan. Walau sebenarnya aku malu, aku sendiri yang mempersulit diriku untuk memenuhi janjiku padaMu itu, tapi aku justru meminta kemudahan padaMu. Maafku, Tuhan. Aku masih tidak bisa bohong pada diriku sendiri untuk mempermudahku memenuhi janjiku itu.

Tuhan, jujur aku sedang sangat lelah.

 

“Cemara pun bisa kesepian di tengah hutan cemara” – Sudjiwo Tedjo

 

Menghabiskan waktu dengan diriku sendiri seperti ini dan berdialog denganMu seperti ini, menghadirkan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin aku bicarakan denganMu. Hal-hal yang aku harap (semestinya) sudah menghilang. Energi negatif.

Jika Engkau bertanya apa yang membuatku lelah padahal sedemikian banyak rizqi yang telah Engkau beri untukku, maka aku hanya akan tertunduk malu. Iya, aku malu Tuhan. Aku masih saja merasa lelah hingga seperti ini padahal Engkau juga telah memberikan begitu banyak hal-hal yang membahagiakanku. Aku tahu aku salah Tuhan, semestinya aku mampu lebih bersyukur. Maafku. Aku hanya sedang ingin berkata bahwa aku lelah.

Aku merasa bersalah atas hal yang semestinya aku juga tidak perlu merasa bersalah. Tapi bagaimanapun aku masih terus merasa bersalah. Tapi aku tahu, aku juga tidak semestinya merasa bersalah. Tapi entah kenapa aku masih terus merasa bersalah atas hal yang semestinya aku tidak perlu merasa bersalah. Betapa tidak mudah, Tuhan, untuk sesekali menjadi egois dan mendahulukan diriku. Aku masih saja terus merasa bersalah.

Inhale. Exhale.

Seperti hewan, manusia juga berkoloni. Itu adalah suatu keniscayaan, dan aku tahu itu. Pada akhirnya akan selalu seperti itu. Hanya saja aku terkadang begitu tertohok atas kenyataan bahwa apa yang aku tahu itu pada akhirnya selalu terjadi sebagaimana yang aku tahu itu. Kenyataan itu pahit, Jenderal. Maka biasakanlah menikmati pahitnya. Aku hidup di dalam suatu harapan, bahwa dalam kehidupan ini, manusia dapat hidup beriringan secara harmonis dengan siapapun, di mana pun, dan kapanpun, tanpa memandang adanya koloni-koloni. Namun aku tahu, harapanku itu terlalu naif dan idealis, Tuhan. Maka aku hingga saat ini hanya akan menikmati kenyataan itu dengan menjadi pengamat. Mengamati ciptaan-ciptaanMu. Sembari terus berharap, harapan itu suatu saat akan terwujud, entah kapan.

Ada kalanya ingin hidup dengan ritme yang biasa saja..tapi aku tahu aku tidak bisa. Aku terus saja merasa: ” jika aku tidak melakukan hal ini saat ini maka aku akan menyesal suatu saat nanti “.

Bukan mengutuki hidupku dan pilihanku saat ini, aku hanya ingin jujur. Terkadang ritme seperti ini membuat hidup terasa begitu cepat berlalu, dan banyak kehilangan yang dirasakan: energimu sudah begitu terkuras ketika kamu menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekatmu, dan bukannya menularkan kebahagiaan pada mereka, kamu terus saja mengeluh dan terlihat begitu lelah. Itulah kehilangan yang aku maksud: Kehilangan kesempatan menularkan kebahagiaan pada orang-orang terdekatmu.

Tuhan….

menuliskan hal-hal ini jujur saja juga tidak mudah. Sangat lelah.

Aku ingin menangis tapi aku tidak tahu apa yang ingin aku tangisi. Aku hanya merasa begitu lelah, dan ingin menangis. Aku ingin menangis, tapi aku tahu menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Maka aku hanya menuliskan keinginanku untuk menangis ini. Mungkin cukup untuk meredakan keinginanku itu.

 

– (masih) Mei 2014-

by: Yara

 

 

 

 

 

 

 

 

May, 2014..

Bukan mengingat, hanya terus berdatangan, setiap bayangan bahwa mereka pernah ada di sana, di dekatmu, sedekat itu. Tidak mudah, mungkin karena bagiku ini adalah pertama, pertama kalinya aku harus berhadapan dengan apa yang ada di waktu yang lalu dari orang yang ada di dekatku saat ini, dan lagi, tidak hanya satu. Atau mungkin semua itu tidak mudah hanya karena aku menyukaimu ? Sesederhana itu. Aku menyukaimu.

 

Mereka cantik ya. Tidak, aku bukan iri. Hanya aku merasa bahwa mereka pernah begitu menarik bagimu, dan kamu pernah begitu menyukai mereka, dan kamu pernah sedekat itu dengan mereka, dan aku hanya tidak suka. Itu saja. Sesederhana itu. Iya, aku tidak suka. Sedikit egois:  aku tidak mau perasaanmu dan kamu terbagi ke yang lain, bahkan di masa lalumu. Hahaha. Yes i’m spoiled.

Inhale. Exhale.

 

Ingin sekali berkata dengan sepenuhnya, aku tidak memikirkannya. Tapi jujur saja, jika perasaan tidak suka setiap kali bayangan tentang hal itu terlintas selalu ada. Dan lebih parahnya lagi aku tidak bisa apa-apa, karena semuanya telah terjadi, tidak ada yang bisa diubah, dan aku harus berhadapan dengan kenyataan bahwa semua itu tidak bisa diubah. Dan aku tidak suka.

 

Ya sudahlah.

 

i must deal with it.

 

inhale. exhale.