gerhana, petang itu…

Sebenarnya aku tahu,
Sejatinya semua hanya lamunan naif seorang manusia.

Bukan merangkai asa, lalu apa?

Mungkin…
Serasa seperti :
Sapa ringan,
seperti:
” Hai selamat pagi mentari, tunjukkan sinar indahmu! ”
Lalu pergi.
Hmmm…

Tidak salah, karna sejatinya tak pernah ada asa.
Namun janggal, entah itu apa.

Cerah, langit sore ini cerah.
Setelah sempat mendung berkabung di pelatarannya…
Tapi satu yang pasti, cerah itu akan pergi,pukul enam nanti.
Kepergiannya akan selalu pasti, tunggu saja.
Ya, mungkin seperti itu rasanya.

Seorang itu pun tahu kepastian itu, karnanya enggan percaya.
Enggan percaya ada pengecualian pada kepastian, ya, kejadian luar biasa: Gerhana.

Dan sejatinya, merangkai asa akan gerhana = menunggu kepastian yang tertunda = menunda luka.
Karnanya ketakutan memilih untuk tidak memilih percaya menjadi pengantinnya.

Ahhh. Ini masih sore. Belum gelap. Mengapa mulai merancu lagi?
Agaknya kelabu mulai melunturkan warnanya,pada pagi,pada seluruh hari.
Entah apa alasannya.
Mungkin, begini lebih baik.
Tuhan yang tahu makna, manusia itu hanya bisa:
menjaga hatinya.
Sebelum Tuhan kirimkan makna itu, padanya.
Tunggu saja…

 

Bogor, 9 Juli 2011

by: Yara

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s