A cup of bitter coffee

Ada sesosok kamu dalam cangkir kopi pahitku.

Semakin ku sesap, semakin aku terlarut ke dalamnya,

meski pahit.

 

Tidak perlu gula.

Kopi pahit adalah kopi termanisku,

Ya, sebab ada kamu di dalamnya,

meski pahit.

 

Cukuplah kamu bahagia.

Tanpa perlu kita duduk bersama , menghirup aroma kopi  di pelataran senja ini.

Terimakasih untuk tidak mu,

untuk enggan mu,

untuk diam mu yang mungkin berarti semua itu.

 

Ya, mungkin.

Bagaimana ku tahu apa arti diam mu?

 

Maka cukuplah ku pahami diam mu dalam cangkir kopi pahitku.

Pahit yang mencandu, manis.

 

– Jogjakarta, 08/12/13-

by: Yara

1e49c503f538b85b32114fb346127867

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s